Lebih Baik Popok Kain Atau Popok Sekali Pakai?

22 March 2017
lebih-baik-popok-kain-atau-popok-sekali-pakai

[Artikel ini disponsori oleh Goo.N]

Beberapa waktu belakangan ini saya lihat di timeline media sosial saya banyak ibu yang membahas soal popok (diaper). Gemasnya, tidak sedikit dari mereka yang kemudian berdebat soal popok apa yang lebih baik dipakai bayi.

Sebenarnya tidak mengherankan bagi saya (dan mungkin kamu) kalau melihat ibu-ibu membahas sesuatu kemudian berujung pada perdebatan, hehehe, karena setiap ibu punya alasan berdasarkan keyakinannya masing-masing soal apa yang terbaik untuk bayinya sehingga mungkin merasa itu juga terbaik untuk bayi lain.

Nah, yang kasihan adalah calon-calon ibu atau ibu-ibu baru yang belum punya pengalaman sama sekali soal popok. Alih-alih mendapatkan informasi yang bisa membantu, calon-calon ibu atau ibu-ibu baru ini justru dibuat bingung dengan perdebatan yang terjadi.

Oleh karena itu, yuk kita bahas!

Popok apa yang lebih baik dipakai oleh bayi? Popok kain (cloth diaper) atau popok sekali pakai (disposable diaper)?

Dilihat dari segi kesehatan, tidak ada perbedaan yang mencolok antara popok kain dan popok sekali pakai karena intinya bukan di popoknya tapi seberapa sering orang tua mengganti popok bayinya dan seberapa bersih orang tua membersihkan kelamin dan bokong bayinya. Khususnya untuk popok sekali pakai, sejauh ini para ahli tidak melihat adanya masalah kesehatan jangka panjang mengingat adanya kemungkinan penggunaan bahan kimia dalam produksi popok sekali pakai. 

Seberapa sering sebaiknya orang tua mengganti popok bayi?

Untuk bayi baru lahir (newborn), sebaiknya, ganti popok setiap 2-3 jam sekali. Sedangkan untuk bayi yang usianya lebih besar dapat diganti setiap 3-4 jam sekali. Penuh maupun tidak penuh popoknya. Jika bayi buang air besar, segera ganti popoknya.

Baca juga : Mau Bayi Tidur Nyenyak Di Malam Hari? Ini Yang Saya Lakukan

Apa saja hal yang perlu diperhatikan ketika membersihkan kelamin dan bokong bayi? 
  • Bersihkan kelamin dan bokong bayi dengan air bersih atau tisu pembersih khusus bayi (hindari tisu pembersih yang mengandung alkohol dan atau wewangian). Bisa juga dengan menggunakan lap atau kain bersih. Jika menggunakan sabun, gunakan sabun khusus bayi sedikit saja dan bilas hingga bersih.
  • Untuk bayi laki-laki, bersihkan lipatan-lipatan kulit di sekitar penis dan testis tapi jangan pernah menarik kulit luarnya.
  • Untuk bayi perempuan, lakukan pembersihan dari arah depan ke belakang secara satu arah (jangan bolak balik) karena jika pembersihan dilakukan dari belakang ke depan maka kotoran dan kuman dari anus bisa terbawa masuk ke dalam vagina dan ini bisa menimbulkan masalah kesehatan. Selain itu, tidak perlu membersihkan hingga bagian dalam vagina karena vagina memiliki kemampuan membersihkan dirinya sendiri.
  • Setelah dibersihkan, keringkan kelamin dan bokong bayi menggunakan tisu khusus bayi, lap atau kain yang bersih dan kering.

lebih-baik-popok-kain-atau-popok-sekali-pakai

Nah, kalau dari segi kesehatan tidak ada perbedaan yang mencolok, lantas apa yang diperdebatkan?

Ada 3 hal yang saya catat :

Popok apa yang lebih baik untuk mengurangi risiko terjadinya ruam popok?

Dalam hal ini, tidak ada keputusan yang jelas apakah popok kain atau popok sekali pakai yang lebih baik untuk mengurangi risiko terjadinya ruam popok karena ruam popok dapat terjadi atas dasar berbagai sebab. Di antaranya adalah gesekan kulit dengan popok, popok yang sudah terisi urin dan atau feses tidak segera diganti (lembab), jamur, bakteri dan reaksi alergi.

Kebanyakan ahli berpendapat bahwa popok sekali pakai dapat mengurangi risiko terjadinya ruam popok karena popok sekali pakai dilengkapi dengan fitur-fitur yang dapat membuat permukaan popok tetap kering. Sedangkan popok kain tidak dilengkapi dengan fitur-fitur tersebut sehingga popok lebih mudah basah dan lembab.

Walau begitu, orang tua yang memutuskan untuk memakaikan bayinya popok kain tetap dapat mengurangi risiko terjadinya ruam popok dengan cara meminimalkan jumlah waktu kontak antara kelamin dan bokong bayi dengan urin dan atau feses yang artinya orang tua harus rutin dan segera mengganti popok bayi apabila popok terisi urin dan atau feses.

Selain itu, ruam popok juga dapat dicegah dengan cara :
  • Mencuci tangan sebelum dan sesudah mengganti popok bayi untuk mencegah penyebaran dan perpindahan kotoran dan kuman.
  • Memastikan kulit bayi benar-benar bersih dan kering sebelum memakaikan popok yang baru.
  • Menggunakan krim anti ruam sebelum memakaikan popok.
  • Jika menggunakan popok kain, pilihlah popok yang berbahan lembut. Saat mencuci popok, pisahkan popok dengan pakaian lain dan cuci popok dengan menggunakan deterjen khusus pakaian bayi (sebaiknya tidak menggunakan pelembut atau pewangi pakaian).
  • Jika menggunakan popok sekali pakai, pilihlah popok yang mempunyai fitur pee lock system yang dapat menyerap urine secara maksimal dan menguncinya agar tidak kembali ke permukaan sehingga permukaan popok tetap kering, fitur pee sign yang memudahkan orang tua untuk mengetahui kapan popok harus diganti dan fitur lapisan bergelombang atau berpori (breathable layer) sehingga tidak semua permukaan popok menempel pada kulit bayi. 
  • Sesuaikan ukuran popok dengan berat badan bayi. Berat badan bayi akan mempengaruhi banyaknya jumlah urin dan feses bayi. Jika ukuran popok bayi tidak sesuai dengan berat badan bayi maka popok tidak dapat menampung urin dan feses yang dikeluarkan bayi. Selain itu, berat badan bayi akan mempengaruhi lingkar perut dan lingkar paha bayi. 
Popok apa yang lebih hemat?

Popok kain dan popok sekali pakai sama-sama bisa membuat orang tua tidak hemat. Hanya saja dengan jalur yang berbeda.

Dari segi biaya untuk pembelian popok, popok kain memang lebih hemat dibandingkan dengan popok sekali pakai karena popok kain dapat dicuci dan dipakai lagi berulang kali. Selain itu, popok kain dapat disimpan untuk digunakan oleh anak kedua dan seterusnya sehingga dapat meminimalisir biaya perlengkapan bayi di masa yang akan datang. Tapi, popok kain memerlukan air, deterjen dan listrik untuk proses pencuciannya. Jika orang tua tidak bijak menggunakan air, deterjen dan listrik maka biaya yang sudah bisa dihemat dari pembelian popok tadi justru dapat bertambah untuk biaya air, deterjen dan listrik yang berlebihan. Sedangkan dari segi tenaga dan waktu, popok sekali pakai tentu lebih hemat dibandingkan dengan popok kain karena tidak perlu dicuci. Terlebih lagi jika musim hujan tiba.

Sebagai salah satu solusi berhemat, orang tua yang memutuskan untuk memakaikan bayinya popok kain perlu bijak dalam menggunakan air, deterjen dan listrik saat proses pencucian popok. Sedangkan orang tua yang memutuskan untuk memakaikan bayinya popok sekali pakai dapat memanfaatkan promo atau diskon yang diadakan oleh produsen atau penjual popok sekali pakai agar bisa berhemat. 

Popok apa yang lebih ramah lingkungan?

Popok kain dan popok sekali pakai sama-sama mempunyai pengaruh negatif terhadap lingkungan. Hanya saja dengan jalur yang berbeda.

Popok kain menghabiskan lebih banyak air, deterjen dan listrik untuk proses pencuciannya dan air hasil pencuciannya pun bisa menjadi limbah bagi lingkungan. Sedangkan popok sekali pakai membutuhkan lebih banyak bahan baku dalam produksinya dan menghasilkan lebih banyak sampah.

Walau begitu, orang tua yang peduli terhadap lingkungan tetap bisa go green kok... Jika orang tua memutuskan untuk memakaikan bayinya popok kain, pilihlah popok kain yang terbuat dari katun organik. Sedangkan jika orangtua memutuskan untuk memakaikan bayinya popok sekali pakai, pilihlah popok sekali pakai yang tidak mengandung chlorin sehingga akan mengurangi bahaya racun dioxin (chlorin adalah bahan kimia yang digunakan sebagai pemutih).

lebih-baik-popok-kain-atau-popok-sekali-pakai

Jadi, pemakaian popok kain atau popok sekali pakai hanya soal preferensi (pilihan) yang tentunya disesuaikan dengan kondisi dan kenyamanan bayi, kondisi dan kenyamanan ibu dan anggaran belanja rumah tangga. Tidak ada yang perlu diperdebatkan, apalagi kalau kemudian mendiskreditkan pilihan ibu lain yang berbeda, karena kondisi setiap bayi, setiap ibu dan setiap rumah tangga tidak selalu sama. Bukankah yang penting bayinya pakai popok? Hehehe ;p

Kalau kamu mau bertanya atau berbagi pengalaman, kolom komentar saya terbuka ya ;)

Kamu Bisa Menderita Kanker Serviks

11 January 2017

Pada sistem reproduksi wanita, cervix uteri (serviks/leher rahim) adalah bagian terbawah dari uterus (rahim) yang menghubungkan uterus (rahim) dan vagina

Fungsi serviks adalah memungkinkan darah menstruasi mengalir dari rahim menuju vagina juga memungkinkan air mani mengalir ke rahim. Saat persalinan, serviks memberi jalan untuk janin keluar dengan cara melunak dan melebar (tingkatan pelebaran serviks ini lah yang digunakan oleh dokter atau bidan dalam pengambilan keputusan) sekaligus menopang bagian-bagian tubuh janin.

kamu-bisa-menderita-kanker-serviks-kalau-tidak-lakukan-dua-hal-ini

Apa itu kanker serviks?
Kanker serviks adalah kanker yang menyerang area serviks. Kanker serviks terjadi kalau sel-sel serviks tumbuh dan berkembang secara tidak normal dan tidak terkendali.
Sel-sel ini tidak serta merta berubah menjadi sel-sel kanker melainkan secara bertahap berkembang menjadi sel-sel pre-kanker dan akhirnya menjadi sel-sel kanker. Tahap perkembangan ini bisa dideteksi dengan pemeriksaan pap smear.

Siapa saja yang berisiko terkena kanker serviks?
Setiap wanita berisiko menderita kanker serviks.
Di Indonesia, menurut data dari Kementerian Kesehatan :
  • Setiap tahun lebih dari 15.000 kasus kanker serviks terjadi di Indonesia.
  • Setiap bulan Indonesia kehilangan 600-750 wanita akibat kanker serviks.
  • Setiap hari 20-25 dari 40-45 wanita Indonesia yang terdiagnosa menderita kanker serviks meninggal dunia.
  • Setiap 1 jam 1 wanita Indonesia meninggal dunia akibat kanker serviks.
Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa kanker serviks masih menjadi penyakit pembunuh wanita nomor 1 di Indonesia bergantian dengan kanker payudara. Tingginya kasus kanker serviks di Indonesia membuat World Health Organization (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita kanker serviks terbanyak di dunia.

Apa penyebab kanker serviks?

Data menunjukkan lebih dari 90% kasus kanker serviks berhubungan erat dengan infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Penularan HPV terutama melalui hubungan seksual, termasuk hubungan seksual tanpa penetrasi dan penggunaan sex toys. Penggunaan kondom tidak dapat mencegah penularan infeksi HPV karena kondom tidak melindungi seluruh area genital.

Selain infeksi HPV, faktor-faktor berikut ini juga dapat meningkatkan risiko kanker serviks :

Aktivitas seksual pertama dan atau hamil di usia sangat muda (< 16 tahun)

Pada saat organ-organ sistem reproduksi wanita sedang dalam masa perkembangan, sebaiknya tidak 'diganggu' dulu dengan rangsangan penis, sperma atau kehamilan karena apabila proses perkembangan ini 'terganggu' maka sel-sel organ-organ reproduksi, termasuk sel-sel serviks, dapat menjadi tidak normal dan berpotensi menjadi sel-sel kanker.

Aktivitas seksual dengan berganti-ganti pasangan

Wanita yang melakukan aktivitas seksual dengan berganti-ganti pasangan sangat rentan terserang infeksi HPV.

Aktivitas seksual dengan laki-laki yang tidak disirkumsisi (disunat)

Laki-laki yang tidak disirkumsisi rentan terserang infeksi HPV dan bisa menularkannya ke pasangan seksualnya.

Sering melahirkan (> 3 kali), terutama jika jarak persalinan terlalu dekat

Hubungan langsung antara sering melahirkan dan kanker serviks sampai saat ini belum diketahui secara pasti namun banyak teori yang dapat dijadikan sebagai pegangan.

Saat proses persalinan, janin akan melewati serviks dan menimbulkan trauma pada serviks. Semakin sering seorang wanita melahirkan maka semakin sering pula terjadi trauma pada serviksnya. Ketika seorang wanita selesai melahirkan, sistem reproduksinya akan memperbaiki sel-sel yang rusak dengan sendirinya dan perbaikan ini membutuhkan waktu. Jika dalam masa perbaikan itu sudah terjadi trauma lagi maka sel-sel yang belum sempurna diperbaiki itu dapat menjadi tidak normal dan berpotensi menjadi sel-sel kanker.

Selain itu, diduga perubahan hormon yang terjadi saat masa kehamilan membuat serviks rentan terserang infeksi HPV.

Kebiasaan merokok

Penelitian menunjukkan zat-zat berbahaya dalam rokok akan merusak sel-sel Langerhans pada serviks yang berfungsi melawan penyakit.

Tidak hanya wanita perokok aktif, wanita perokok pasif pun harus memperhatikan hal ini.

Kebersihan dan kebiasaan seksual yang buruk

Hal ini berhubungan dengan penularan infeksi HPV. 

Golongan sosial ekonomi rendah

Wanita-wanita golongan sosial ekonomi rendah lebih rentan menderita kanker serviks. Hal ini berhubungan dengan lingkungan hidup yang biasanya kurang bersih atau kurang terawat dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan yang biasanya jauh dari pola hidup sehat.

Wanita-wanita golongan sosial ekonomi rendah biasanya tidak mendapat cukup informasi yang benar mengenai pola hidup sehat dan mengenai kanker serviks sehingga kesadaran akan pentingnya melakukan pencegahan dan deteksi dini tidak terbangun.

Wanita-wanita golongan sosial ekonomi rendah juga biasanya kesulitan untuk menjangkau layanan medis yang memadai guna melakukan pencegahan dan deteksi dini kanker serviks.

Kurang mengkonsumsi buah dan sayur

Buah dan sayur mengandung antioksidan yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari kanker.

Sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah

Kondisi ini bisa terjadi karena mengkonsumsi obat-obat tertentu, misalnya obat-obat golongan imunosupresan atau karena menderita HIV/AIDS. Wanita dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah maka tubuhnya tidak mempunyai kemampuan optimal untuk melindungi dirinya sendiri dari proses abnormal yang terjadi dalam tubuh juga dari serangan berbagai penyakit, termasuk infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks.

Riwayat kanker serviks dalam keluarga

Walaupun wanita-wanita dengan riwayat kanker serviks dalam keluarga mempunyai risiko menderita kanker serviks lebih besar bukan berarti wanita-wanita yang tidak memiliki riwayat kanker serviks dalam keluarga bisa merasa aman dari ancaman kanker serviks. Semua wanita tanpa terkecuali harus tetap waspada dan dianjurkan untuk melindungi diri dari kanker serviks.

Apa saja gejala kanker serviks?

'Jahatnya' kanker serviks ini karena gejala penyakitnya tidak langsung muncul setelah HPV berhasil masuk ke dalam tubuh penderita. Butuh waktu sekitar 10-20 tahun dari mulai masuknya HPV ke dalam tubuh sampai menimbulkan gejala.

Kanker serviks pada stadium awal tidak menunjukkan gejala yang khas, bahkan bisa tanpa gejala. Seringkali gejala muncul saat kanker serviks sudah memasuki stadium akhir.

Gejala-gejala yang paling umum adalah :

Perdarahan yang tidak normal


Perdarahan yang muncul di luar periode menstruasi, setelah berhubungan seksual, dan atau setelah menopause. Seiring dengan berkembangnya penyakit, perdarahan ini menjadi semakin banyak jumlahnya, semakin sering frekuensi terjadinya dan semakin lama waktu berlangsungnya sehingga dapat menimbulkan anemia.

Keputihan yang
 tidak normal

Lendir yang keluar semakin lama semakin berbau busuk akibat infeksi dan matinya jaringan.

Apakah kanker serviks dapat diterapi?

Ketika seseorang telah didiagnosis menderita kanker serviks maka terapi harus segera dimulai. Salah satu tujuannya adalah untuk mencegah sel-sel kanker menyebar ke organ-organ lain. Secara umum, terapi kanker serviks bergantung pada stadium kanker, usia dan keadaan penderita, ada atau tidaknya penyebaran dan komplikasi lain yang menyertai. Terapi dapat berupa pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi.

kamu-bisa-menderita-kanker-serviks-kalau-tidak-lakukan-dua-hal-ini

Saya cerita sedikit ya tentang pengalaman saya membantu konsulen saya (SpOG) merawat pasien penderita kanker serviks stadium lanjut. Pengalaman ini masih saya ingat dengan jelas.

Pasien kanker serviks ini ditempatkan di ruang isolasi. Iya, ruang isolasi. Pertimbangannya karena bau yang ditimbulkan. Tidak hanya itu, untuk lebih meredam bau, di bawah tempat tidurnya juga ditaburkan bubuk kopi.

Pertama kali saya melihat pasien ini, saya langsung merasa iba. Tubuhnya sangat kurus. Ibaratnya, tinggal kulit yang membungkus tulang. Kondisinya sangat lemah. Jangankan untuk bergerak, untuk menjawab pertanyaan konsulen saya saja tidak sanggup.

Konsulen saya mengatakan bahwa kankernya sudah menyebar ke berbagai tempat dan menimbulkan komplikasi. Mendengar hal itu, tak ada hal lain yang saya pikirkan selain anak-anaknya (pasien tersebut mempunyai 3 anak yang masih kecil-kecil). Bagaimana dengan anak-anaknya? Walau anak-anak itu memiliki ayah yang sehat dan menyayangi mereka tapi peran seorang ibu tidak bisa terganti.

Karena pengalaman itu, saya bertekad untuk menyebarkan informasi mengenai kanker serviks selengkap-lengkapnya dan seluas-luasnya supaya banyak wanita sadar bahwa ancaman kanker serviks itu nyata. Supaya tidak ada lagi wanita yang menderita seperti wanita yang saya lihat di ruang isolasi itu. Supaya tidak ada lagi anak-anak yang kehilangan ibunya karena sesuatu yang bisa dicegah.

Tapi kenyataannya hal itu tidak mudah. Menyadarkan orang untuk peduli terhadap kanker serviks, terutama menyadarkan wanita-wanita untuk melakukan pencegahan dan deteksi dini kanker serviks, sama sekali tidak mudah. Padahal, dengan melakukan pencegahan dan deteksi dini maka angka kesakitan dan kematian akibat kanker serviks bisa ditekan sampai lebih dari 50%.

Walaupun saya sudah menyajikan fakta-fakta tetap saja banyak wanita TIDAK tergugah untuk segera melakukan pencegahan dan deteksi dini. Selalu saja ada alasan.

"Pap smear kan menyakitkan..."

Saya yang sudah pernah pap smear bisa bilang pap smear tidak menyakitkan. Malah tidak terasa dan sangat cepat prosesnya. Memang, rasa sakit itu relatif. Tapi, kalau pun ada rasa sakit, rasa sakit itu hanya muncul sesaat ketika spekulum vagina dimasukkan dan akan langsung hilang. Kamu yang sudah pernah hamil dan melahirkan tahu itu.

Lagipula, kalau kamu menderita kanker serviks, rasa sakitnya malah jauh lebih sakit.

"Nanti kalau penyakitnya ketahuan gimana?"

Namanya juga memeriksakan diri, bisa jadi ada penyakitnya atau bisa jadi tidak ada penyakitnya. Kalau pun ada penyakitnya, kan lebih baik diketahui sedini mungkin. Semakin dini suatu penyakit diketahui maka semakin mudah dan murah untuk dibantu disembuhkan. Tingkat keberhasilan pengobatannya juga menjadi lebih tinggi.

Sebaliknya, kalau tidak ada penyakitnya, kita jadi yakin penyakitnya memang tidak ada.

"Aduh, takut jarum suntik..."

Seharusnya lebih takut menderita kanker serviks dong ;(

"Biaya vaksinasi HPV kan mahal..."

Memang, biaya vaksinasi kanker serviks tergolong tidak murah tapi saat ini sudah banyak pusat layanan medis yang menyediakan paket (konsultasi dokter, pap smear dan vaksin HPV) sehingga biaya menjadi lebih murah. Atau, kamu bisa niatkan menabung. Sisihkan uang setiap bulan untuk biaya vaksinasi HPV.

Kalau kamu menderita kanker serviks, biayanya malah jauh lebih mahal loh...

Cegah kanker serviks dengan vaksin HPV

Pencegahan kanker serviks dilakukan dengan cara meminimalisir dan atau menghilangkan faktor-faktor risiko yang sudah saya jelaskan sebelumnya dan melakukan vaksinasi HPV. Khusus untuk vaksinasi HPV, vaksin diberikan sebanyak tiga kali agar titer antibodi terhadap HPV cukup sehingga dapat memberikan perlindungan yang maksimal.

Vaksin HPV akan lebih efektif jika diberikan pada wanita yang belum aktif secara seksual
yaitu wanita berusia antara 9 sampai 12 tahun. Di Indonesia, berdasarkan rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (KPAIN), Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dan Kementerian Kesehatan menetapkan usia optimal wanita untuk melakukan vaksinasi HPV adalah 10 tahun tanpa melihat apakah sudah menstruasi atau belum.

Oleh karena itu, untuk kalian yang punya anak, adik, atau keponakan wanita berusia di bawah 10 tahun, jadwalkan vaksinasi HPV saat mereka berusia 10 tahun ya.

sumber : www.idai.or.id
Bagaimana dengan wanita-wanita yang usianya sudah lewat dari 10 tahun?

Untuk wanita-wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual maka dapat langsung melakukan vaksinasi HPV. Untuk wanita-wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual maka disarankan untuk melakukan screening dengan pemeriksaan pap smear terlebih dahulu.

Apakah benar vaksin HPV dapat menyebabkan menopause dini?

Tidak benar. Vaksin HPV tidak mempengaruhi hormon seseorang. Oleh karena itu, vaksin HPV tidak menyebabkan menopause dini.

Apakah ibu hamil bisa mendapatkan vaksin HPV?

Tidak bisa. Hamil merupakan kontraindikasi pemberian vaksin HPV karena belum ada penelitian untuk itu. Kalau kamu hamil dan sudah menerima 2 kali suntikan HPV maka kamu dapat melanjutkan suntikan ketiga setelah kamu melahirkan. Tapi, kalau kamu hamil dan baru menerima 1 kali suntikan HPV maka vaksin tersebut hangus dan harus diulang dari pertama setelah kamu melahirkan.

Apakah ibu menyusui bisa mendapatkan vaksin HPV?

Bisa. Vaksin HPV tidak akan masuk ke dalam ASI.

kamu-bisa-menderita-kanker-serviks-kalau-tidak-lakukan-dua-hal-ini
sumber : http://www.health.harvard.edu/blog/why-public-schools-should-require-the-hpv-vaccine-201509148268

Lakukan deteksi dini dengan pemeriksaan pap smear

Pap smear adalah suatu metode untuk memeriksa keadaan sel-sel serviks, apakah sel-sel serviks terinfeksi HPV dan atau berpotensi menjadi kanker, dengan cara mengambil sel serviks yang kemudian dipulas ke kaca objek dan diuji di laboratorium.

Pemeriksaan pap smear hanya dapat dilakukan pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual karena salah satu prosedur pemeriksaannya adalah memasukkan alat medis (spekulum vagina) ke rongga vagina (rongga vagina ditutupi dengan selaput dara).

Lakukan pemeriksaan pap smear secara rutin. Untuk wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual berusia 21-65 tahun disarankan melakukan pemeriksaan pap smear setiap tiga tahun sekali. Untuk wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual berusia 30-65 tahun dan dinyatakan negatif HPV disarankan melakukan pemeriksaan pap smear setiap lima tahun sekali. Atau, lakukan pemeriksaan pap smear sesuai anjuran dokter.

Untuk kamu yang mempunyai kartu BPJS, pemeriksaan pap smear sudah ditanggung oleh BPJS.

kamu-bisa-menderita-kanker-serviks-kalau-tidak-lakukan-dua-hal-ini

Begitu serius dan nyatanya kanker serviks ini mengancam setiap wanita tanpa terkecuali. Jadi, jangan pernah berpikir untuk menunda melakukan pencegahan dan deteksi dini karena kamu berisiko.

Kalau kamu belum melakukan pencegahan dengan vaksinasi HPV dan atau melakukan deteksi dini dengan pap smear maka sekarang adalah waktu yang tepat.

kamu-bisa-menderita-kanker-serviks-kalau-tidak-lakukan-dua-hal-ini

Artikel ini tidak hanya saya tujukan untuk para wanita tapi juga untuk para pria. Tolong ingatkan wanita-wanita di sekitarmu tentang bahaya kanker serviks dan dukung mereka untuk melakukan pencegahan dan deteksi dini. Jangan sampai kamu kehilangan wanita yang kamu sayangi akibat kanker serviks.

Kalau ada informasi yang kurang jelas atau kamu punya pertanyaan tentang kanker serviks, silahkan tulis di kolom komentar. Kalau kamu punya pengalaman yang berhubungan dengan kanker serviks dan mau dibagi, silahkan juga ya ;)

Sayap Kuatku

22 December 2016
sayap-kuatku

Sayap kuatku,
yang selalu mengangkatku dan menerbangkanku,
tinggi...
tinggi...
tinggi...

Sayap kuatku,
yang selalu menjadi sandaranku ketika lelah,
ketika lemah...

Sayap kuatku,
sayap terindah yang Dia berikan untuk
menuntunku,
melindungiku.

Mau Bayi Tidur Nyenyak Di Malam Hari? Ini Yang Saya Lakukan

15 December 2016
bayi-tidur-nyenyak-di-malam-hari

[Artikel ini disponsori oleh Goo.N]

Tidur merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia. Sama pentingnya seperti makan dan minum. Tidur bukan hanya sekedar istirahat tapi tidur yang baik adalah tidur yang cukup (sesuai dengan kebutuhan waktu tidur) dan berkualitas.

Ini Alasan Kenapa Kamu Harus Sedia Nebulizer Di Rumah

01 December 2016
alasan-harus-sedia-nebulizer-di-rumah

[Artikel ini disponsori oleh Omron Healthcare]

Keluarga saya adalah keluarga penderita alergi. Ayah saya alergi salah satu jenis obat, ibu saya alergi udara dingin. Saya sendiri alergi tungau debu rumah, asap tembakau, detergen, dan lateks. Nah, yang paling kasihan adalah adik saya. Kenapa saya bilang kasihan? Adik saya alergi udara dingin, sama seperti ibu, tapi bedanya, alergi udara dingin pada adik saya itu memicu terjadinya asthma dan sinusitis. Lengkap! Kalau sudah kambuh satu, yang lain bisa ikut kambuh. Ya jadi kasihan itu tadi karena sakitnya bertumpuk-tumpuk dan kenanya di saluran pernapasan semua kan...

Pernah ada satu pengalaman yang cukup mendebarkan,

Auto Post Signature

Auto Post Signature