Kenapa Memilih Kedokteran Penerbangan (Bagian Pertama)

January 14, 2021

 kenapa-memilih-kedokteran-penerbangan


Program Studi (Prodi) Spesialis Kedokteran Penerbangan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia didirikan pada tahun 2010 dan merupakan program studi Ilmu Kedokteran Penerbangan yang pertama tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Asia.


Ketika orang-orang tahu bahwa aku melanjutkan pendidikan ke Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan menyebut spesialisasi yang aku ambil adalah Kedokteran Penerbangan, bisa dibilang, hampir semuanya asing dengan Kedokteran Penerbangan. Hampir semuanya merespons dengan bertanya,


"Apa itu Kedokteran Penerbangan?"


Wajar karena, memang, Ilmu Kedokteran Penerbangan belum sepopuler cabang ilmu-cabang ilmu kedokteran lain yang sudah lebih dulu eksis di Indonesia. Program studinya saja baru berusia 10 tahun. Walau begitu, sebenarnya, Ilmu Kedokteran Penerbangan ini sangat dekat dengan kita karena penerbangan bukan hal baru untuk kita. Penerbangan sudah menjadi keseharian kita. Lebih dalam tentang prodi Kedokteran Penerbangan akan aku jelaskan di artikel terpisah ya 😉


Baca juga: Menjadi Seorang Dokter


Pertanyaan selanjutnya,


"Kenapa memilih Kedokteran Penerbangan?"


Jawaban cepatku, "... karena dokter yang mengurusi kesehatan manusia di darat sudah banyak tapi dokter yang mengurusi kesehatan manusia di udara belum banyak,"


Tapi, the real answer is,


"... karena itu jalannya,"


and this is the story behind it.


Jadi, waktu aku mau melanjutkan pendidikan ke PPDS, Kedokteran Penerbangan bukan prodi pilihanku karena aku ngga tahu prodi ini ada 😁 Aku baru tahu prodi ini ada sekitar tahun 2013-2014. Menurutku, segala sesuatu yang baru, yang belum banyak orang tahu, yang belum banyak orang berkecimpung di dalamnya akan selalu menarik perhatian. Tapi, waktu itu, aku tertarik saja. Aku ngga lantas nyari tahu tentang Kedokteran Penerbangan karena aku masih menuju tujuanku.


Daftarlah aku ke prodi tujuanku. Usaha pertama gagal. Aku ngga diterima. Ayo coba lagi. Usaha kedua. Nah, di usaha yang kedua ini, entah ada apa dengan semesta. Jadi, jelang ujian prodi, aku scrolling timeline Twitter dan flyer Aerospace Medicine Day muncul. Rasa tertarik aku yang waktu itu ada muncul lagi. Terus, aku yang, "Daftar ah,". Daftarlah aku ke Aerospace Medicine Day. Selesai mendaftar, batinku bilang,


"Kalau di usaha yang kedua ini gagal lagi, coba sekali lagi ya, Din. Tapi, nyobanya ke Kedokteran Penerbangan,"


EH, KEJADIAN DONG! Usaha yang kedua membuahkan hasil kegagalan lagi. Aku ngga diterima lagi di prodi tujuanku.


Aku sempat merasa capek karena, ya, memang capek. Daftar-ujian-ujian-ujian-ujian-ujian-ujian-nunggu hasil supaya bisa diterima di PPDS itu capek dan makan banyak waktu, tenaga, pikiran, perasaan, dan uang. Tapi, ya, itu. Di dalam diriku kayak nyemangati,


"Ayo, Din. Sekali lagi. Tapi, ke Kedokteran Penerbangan,"


Baca juga: Bertahan


Berhubung aku termasuk orang yang ngga mau menyesal karena aku ngga pernah nyoba, daftarlah aku ke Kedokteran Penerbangan. Alhamdulillah, aku diterima di usahaku yang pertama 💖


Aku memaknai pengalaman ini sebagai, mungkin, Tuhan sedang mengajari aku bahwa jalan yang selama ini aku usahakan dengan sebegitunya Dia "gagalkan" karena jalan itu bukan jalanku. Belum tentu karena jalan itu ngga baik buatku atau sebaliknya. Tapi, aku mikirnya, ya, aku dan jalan itu ngga jodoh.


Jalanku bukan yang itu, tapi yang ini 😊

2 comments on "Kenapa Memilih Kedokteran Penerbangan (Bagian Pertama)"

Auto Post Signature

Auto Post Signature