Bertahan

13 August 2020
refleksi-diri

Saya sedang dalam 'perjalanan' mewujudkan cita-cita saya menjadi dokter spesialis ketika saya dinyatakan hamil. Di satu sisi, saya hamil. Di sisi lain, saya harus menunda 'perjalanan' saya karena kondisinya tidak memungkinkan. Terlebih karena kehamilan saya yang sangat tidak mudah.

Selama saya hamil, saya mengalami perdarahan dan pengentalan darah yang mengakibatkan, di awal masa kehamilan, saya harus merelakan satu dari dua janin yang saya kandung. Ditambah, letak plasenta saya rendah dan sempat ada bagiannya yang tidak menempel pada dinding rahim. Juga, di akhir masa kehamilan, air ketuban saya hampir habis yang membuat saya harus melahirkan dua minggu lebih cepat dari waktu perkiraan.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang merawat saya mengusahakan semua yang bisa diusahakan untuk mengatasi kondisi saya tersebut guna mempertahankan janin yang saya kandung. Utamanya, beliau menyarankan saya untuk total bed rest. Kata beliau, "Apa yang bisa dilakukan di tempat tidur, silakan dilakukan. Apa yang tidak bisa dilakukan di tempat tidur, sebaiknya, tidak dilakukan untuk sementara waktu,"

Tidak bisa melakukan apa-apa sendiri dan harus 'diam' di tempat tidur untuk waktu yang tidak sebentar sempat membuat saya putus asa. Kata mama, "Mungkin ini ujian dari Allah buat Dini karena Allah mau melihat kesungguhan Dini menjadi orang tua. Kan Dini sendiri yang mau punya anak. Dini harus 'lulus' ujian ini," Saya, kemudian, belajar untuk menerima dan berserah. Sebagai manusia, saya memang harus berusaha semaksimal mungkin tapi saya juga harus berserah setelahnya. Tuhanlah yang punya kuasa dan Dia sedang menunjukkannya.

Saya pikir, saya sudah mengalami masa terberat dalam hidup saya. Ternyata belum. Masa kehamilan bukan masa terberat melainkan seperti 'pemanasan' karena setelahnya, tahun 2018, adalah masa terberat dalam hidup saya selama ini. Di bulan Januari, papa saya tiba-tiba jatuh di kamar mandi setelah selesai berwudu untuk menunaikan salat duha. Sejak saat itu, beliau tidak sadarkan diri sampai akhir hidupnya. Ditinggalkan papa untuk selamanya meluluhlantakkan kepercayaan diri saya. Saya seperti kehilangan pegangan dan perlindungan.

Saya sempat merasa bersalah atas meninggalnya papa karena saya merasa tidak bisa menjaga dan menyelamatkan papa. Saya merasa tidak bisa 'membaca' tanda-tanda yang ada. Saya merasa semua ilmu dan keterampilan medis yang saya punyaa seperti tidak ada gunanya. Saya bahkan pernah menyampaikan ke mama, "Ma, maafin Dini ya. Dini ngga bisa jagain papa," Tapi, begitulah mama saya. Seorang perempuan, seorang istri, sekaligus seorang ibu yang kuat, sabar, dan ikhlas. Beliau berkata, "Jangan mikir dan merasa seperti itu. Papa meninggal bukan salah Dini tapi memang sudah jalannya. Papa sudah sampai pada 'umurnya'. Bagaimanapun Dini menjaga papa, kalau Allah sudah berkehendak, ya, ngga ada yang bisa mengubah takdirNya,"

Di tahun yang sama, hanya berselang 5 bulan setelah papa meninggal dunia, saya menggugat cerai suami saya. Keputusan yang harus saya ambil saat duka keluarga kami masih jauh dari usai. Saya semakin merasa bersalah kepada mama. Sebagai seorang anak, seharusnya, saya membawa suka untuk menguatkan beliau melewati masa duka. Sebaliknya, saya malah menambah duka. Tapi, justru, mama yang menguatkan saya, "Buat mama, yang penting Dini bahagia,"

Ketika memutuskan bercerai, ada rasa penyesalan dalam diri saya. Bukan menyesal karena perceraiannya tapi menyesal karena saya tidak bisa memberikan hak anak saya untuk bertumbuh dan berkembang dalam 'rumah' yang utuh. Anak saya baru berusia dua tahun tapi saya sudah memberikan masalah besar padanya.

Saya tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan diri saya saat itu. Hidup saya terus berjalan dan saya punya anak yang hidupnya baru saja dimulai. Saya bergelut dengan diri saya sendiri. Saya berusaha untuk 'menyatukan diri' saya kembali. Saya berusaha untuk menata hidup saya kembali. Sulit? Sulit. Saya sebagai diri saya, saya sebagai seorang ibu, saya sebagai seorang anak, dan saya sebagai seorang dokter sekaligus tentu sulit. Bukan main. Rasanya waktu 24/7 sangat tidak cukup. Saya lebih banyak diam, sering menangis, karena lelah. Rasanya hidup keras sekali menempa saya.

Saking sulitnya, saya hampir menyerahkan cita-cita saya menjadi dokter spesialis. Sungguh, saat itu, saya tidak bisa lagi membayangkan saya bisa mewujudkan cita-cita itu. Sepertinya, cita-cita itu menjadi sangat jauh dari jangkauan saya. Saya pikir, saya cukupkan saja sampai di sini. Toh, menjadi dokter umum adalah pencapaian luar biasa bagi saya dan keluarga saya. Saya pikir, saya semangat kerja saja supaya saya dapat menjamin masa depan yang baik bagi anak saya. Ketika saya utarakan hal itu ke mama, mama hanya berkata, "Jangan sampai Dini menyesal," Kalimat sederhana itu mengena. Berhari-hari saya pikirkan kembali tentang hal itu. Sampai, kemudian, anak saya yang menyadarkan saya.

Anak saya perempuan. Oleh karena itu, saya ingin menjadi perempuan yang selalu dia lihat pertama kali dalam berbagai hal. Termasuk pendidikan. Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya dan bisa menjadi apapun yang dimau. Saya tidak tahu apakah menjadi dokter spesialis termasuk dalam takdir saya. Saya pikir hanya ada satu cara untuk mengetahuinya yaitu dengan mencoba dan mengusahakannya. Seandainya tidak termasuk, saya bisa menunjukkan pada anak saya bahwa saya mencoba dan mengusahakannya.

Setelah semua yang terjadi, saya melihat diri saya baik-baik saja. Saya tetap bisa menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasanya, termasuk praktik, walau sekarang ada ruang yang menjadi kosong untuk selamanya dan saya masih selalu menangisi itu. Sampai sekarang pun. Bahkan ketika saya membuat tulisan ini.

Alhamdulillah, saya mempunyai support system yang sangat baik sehingga semua yang saya alami bisa saya maknai sebagai pembelajaran hidup dan menyadarkan saya akan kemanusiaan saya dan kemampuan diri saya. Saya jatuh. Wajar. Namanya juga hidup. Saya mengizinkan diri saya untuk berduka tapi saya tidak mengizinkan diri saya terlarut di dalamnya. Seperlunya. Iya. Saya belajar untuk tetap sadar mengendalikan diri bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun. Hidup memang tidak memberikan dispensasi. Oleh karena itu, saya yang harus mengubah pola pikir dan pola rasa saya agar menjadi manusia yang tangguh.

Inilah saya yang, melalui tulisan ini, sedang berusaha mewujudkan cita-cita saya menjadi dokter spesialis 😊

refleksi-diri

[Tulisan ini adalah esai tentang refleksi diri yang saya buat sebagai salah satu pemenuhan persyaratan ujian program studi Kedokteran Penerbangan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tulisan ini saya tulis ulang di blog DINIPUSPITA dengan tujuan sebagai pengingat dan penyemangat.]
4 comments on "Bertahan"
  1. Ya Allah mba.... Merinding saya bacanya.... Semoga dimudahkan dalam mencapai cita cita dokter spesialis nya ya mba... Dan semoga mba dini sehat selalu selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin yaa rabbal 'alamiin. Terima kasih, Mbak. Semoga Mbak dan keluarga juga sehat selalu dan dimudahkan semua urusannya.

      Delete

Auto Post Signature

Auto Post Signature