Bertahan

13 August 2020
refleksi-diri

Saya sedang dalam 'perjalanan' mewujudkan cita-cita saya menjadi dokter spesialis ketika saya dinyatakan hamil. Di satu sisi, saya hamil. Di sisi lain, saya harus menunda 'perjalanan' saya karena kondisinya tidak memungkinkan. Terlebih karena kehamilan saya yang sangat tidak mudah.

Selama saya hamil, saya mengalami perdarahan dan pengentalan darah yang mengakibatkan, di awal masa kehamilan, saya harus merelakan satu dari dua janin yang saya kandung. Ditambah, letak plasenta saya rendah dan sempat ada bagiannya yang tidak menempel pada dinding rahim. Juga, di akhir masa kehamilan, air ketuban saya hampir habis yang membuat saya harus melahirkan dua minggu lebih cepat dari waktu perkiraan.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang merawat saya mengusahakan semua yang bisa diusahakan untuk mengatasi kondisi saya tersebut guna mempertahankan janin yang saya kandung. Utamanya, beliau menyarankan saya untuk total bed rest. Kata beliau, "Apa yang bisa dilakukan di tempat tidur, silakan dilakukan. Apa yang tidak bisa dilakukan di tempat tidur, sebaiknya, tidak dilakukan untuk sementara waktu,"

Tidak bisa melakukan apa-apa sendiri dan harus 'diam' di tempat tidur untuk waktu yang tidak sebentar sempat membuat saya putus asa. Kata mama, "Mungkin ini ujian dari Allah buat Dini karena Allah mau melihat kesungguhan Dini menjadi orang tua. Kan Dini sendiri yang mau punya anak. Dini harus 'lulus' ujian ini," Saya, kemudian, belajar untuk menerima dan berserah. Sebagai manusia, saya memang harus berusaha semaksimal mungkin tapi saya juga harus berserah setelahnya. Tuhanlah yang punya kuasa dan Dia sedang menunjukkannya.

Saya pikir, saya sudah mengalami masa terberat dalam hidup saya. Ternyata belum. Masa kehamilan bukan masa terberat melainkan seperti 'pemanasan' karena setelahnya, tahun 2018, adalah masa terberat dalam hidup saya selama ini. Di bulan Januari, papa saya tiba-tiba jatuh di kamar mandi setelah selesai berwudu untuk menunaikan salat duha. Sejak saat itu, beliau tidak sadarkan diri sampai akhir hidupnya. Ditinggalkan papa untuk selamanya meluluhlantakkan kepercayaan diri saya. Saya seperti kehilangan pegangan dan perlindungan.

Saya sempat merasa bersalah atas meninggalnya papa karena saya merasa tidak bisa menjaga dan menyelamatkan papa. Saya merasa tidak bisa 'membaca' tanda-tanda yang ada. Saya merasa semua ilmu dan keterampilan medis yang saya punyaa seperti tidak ada gunanya. Saya bahkan pernah menyampaikan ke mama, "Ma, maafin Dini ya. Dini ngga bisa jagain papa," Tapi, begitulah mama saya. Seorang perempuan, seorang istri, sekaligus seorang ibu yang kuat, sabar, dan ikhlas. Beliau berkata, "Jangan mikir dan merasa seperti itu. Papa meninggal bukan salah Dini tapi memang sudah jalannya. Papa sudah sampai pada 'umurnya'. Bagaimanapun Dini menjaga papa, kalau Allah sudah berkehendak, ya, ngga ada yang bisa mengubah takdirNya,"

Di tahun yang sama, hanya berselang 5 bulan setelah papa meninggal dunia, saya menggugat cerai suami saya. Keputusan yang harus saya ambil saat duka keluarga kami masih jauh dari usai. Saya semakin merasa bersalah kepada mama. Sebagai seorang anak, seharusnya, saya membawa suka untuk menguatkan beliau melewati masa duka. Sebaliknya, saya malah menambah duka. Tapi, justru, mama yang menguatkan saya, "Buat mama, yang penting Dini bahagia,"

Ketika memutuskan bercerai, ada rasa penyesalan dalam diri saya. Bukan menyesal karena perceraiannya tapi menyesal karena saya tidak bisa memberikan hak anak saya untuk bertumbuh dan berkembang dalam 'rumah' yang utuh. Anak saya baru berusia dua tahun tapi saya sudah memberikan masalah besar padanya.

Saya tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan diri saya saat itu. Hidup saya terus berjalan dan saya punya anak yang hidupnya baru saja dimulai. Saya bergelut dengan diri saya sendiri. Saya berusaha untuk 'menyatukan diri' saya kembali. Saya berusaha untuk menata hidup saya kembali. Sulit? Sulit. Saya sebagai diri saya, saya sebagai seorang ibu, saya sebagai seorang anak, dan saya sebagai seorang dokter sekaligus tentu sulit. Bukan main. Rasanya waktu 24/7 sangat tidak cukup. Saya lebih banyak diam, sering menangis, karena lelah. Rasanya hidup keras sekali menempa saya.

Saking sulitnya, saya hampir menyerahkan cita-cita saya menjadi dokter spesialis. Sungguh, saat itu, saya tidak bisa lagi membayangkan saya bisa mewujudkan cita-cita itu. Sepertinya, cita-cita itu menjadi sangat jauh dari jangkauan saya. Saya pikir, saya cukupkan saja sampai di sini. Toh, menjadi dokter umum adalah pencapaian luar biasa bagi saya dan keluarga saya. Saya pikir, saya semangat kerja saja supaya saya dapat menjamin masa depan yang baik bagi anak saya. Ketika saya utarakan hal itu ke mama, mama hanya berkata, "Jangan sampai Dini menyesal," Kalimat sederhana itu mengena. Berhari-hari saya pikirkan kembali tentang hal itu. Sampai, kemudian, anak saya yang menyadarkan saya.

Anak saya perempuan. Oleh karena itu, saya ingin menjadi perempuan yang selalu dia lihat pertama kali dalam berbagai hal. Termasuk pendidikan. Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya dan bisa menjadi apapun yang dimau. Saya tidak tahu apakah menjadi dokter spesialis termasuk dalam takdir saya. Saya pikir hanya ada satu cara untuk mengetahuinya yaitu dengan mencoba dan mengusahakannya. Seandainya tidak termasuk, saya bisa menunjukkan pada anak saya bahwa saya mencoba dan mengusahakannya.

Setelah semua yang terjadi, saya melihat diri saya baik-baik saja. Saya tetap bisa menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasanya, termasuk praktik, walau sekarang ada ruang yang menjadi kosong untuk selamanya dan saya masih selalu menangisi itu. Sampai sekarang pun. Bahkan ketika saya membuat tulisan ini.

Alhamdulillah, saya mempunyai support system yang sangat baik sehingga semua yang saya alami bisa saya maknai sebagai pembelajaran hidup dan menyadarkan saya akan kemanusiaan saya dan kemampuan diri saya. Saya jatuh. Wajar. Namanya juga hidup. Saya mengizinkan diri saya untuk berduka tapi saya tidak mengizinkan diri saya terlarut di dalamnya. Seperlunya. Iya. Saya belajar untuk tetap sadar mengendalikan diri bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun. Hidup memang tidak memberikan dispensasi. Oleh karena itu, saya yang harus mengubah pola pikir dan pola rasa saya agar menjadi manusia yang tangguh.

Inilah saya yang, melalui tulisan ini, sedang berusaha mewujudkan cita-cita saya menjadi dokter spesialis 😊

refleksi-diri

[Tulisan ini adalah esai tentang refleksi diri yang saya buat sebagai salah satu pemenuhan persyaratan ujian program studi Kedokteran Penerbangan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tulisan ini saya tulis ulang di blog DINIPUSPITA dengan tujuan sebagai pengingat dan penyemangat.]

SADARI. Kamu Bisa Menderita Kanker Payudara.

24 October 2019
sadari-kamu-bisa-menderita-kanker-payudara

Bulan Oktober dikenal sebagai Breast Cancer Awareness Month yaitu suatu kampanye tahunan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, untuk menyoroti bahaya kanker payudara dan pentingnya melakukan pencegahan serta deteksi dini kanker payudara dengan SADARI (pemerikSAan payuDAra sendiRI). Kampanye ini juga ditujukan untuk mendukung para penderita kanker payudara dan mereka yang anggota keluarganya menderita kanker payudara.

[Disclosure : Materi kesehatan dalam artikel ini bersifat informatif dan edukatif sehinggga tidak bisa dijadikan acuan untuk mendiagnosis suatu masalah kesehatan. Apabila pembaca mengalami masalah kesehatan, terutama yang gejala-gejalanya mirip dengan yang disebutkan dalam artikel ini, pembaca harus berkonsultasi langsung dengan dokter.]

Merujuk pada data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia per 31 Januari 2019, angka kejadian kanker di Indonesia menunjukkan peningkatan dari 1.4 per 1000 penduduk di tahun 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Angka kejadian kanker di Indonesia menempati urutan ke-8 di Asia Tenggara dan ke-23 di Asia. Angka kejadian kanker tertinggi untuk laki-laki adalah kanker paru yaitu sebesar 19,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 10,9 per 100.000 penduduk. Sedangkan angka kejadian kanker tertinggi untuk perempuan adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk.

Kanker payudara terjadi karena sel-sel payudara tumbuh dan berkembang secara tidak normal dan tidak terkendali. Sel-sel payudara yang tumbuh dan berkembang secara tidak normal dan tidak terkendali tersebut bisa menyebar (metastasis) melalui aliran darah ke organ-organ vital, seperti paru-paru, sehingga dapat menyebabkan kematian.

sadari-kamu-bisa-menderita-kanker-payudara

Siapa saja yang berisiko menderita kanker payudara?


Perempuan dan laki-laki sama-sama berisiko menderita kanker payudara walau jumlah kasus pada laki-laki sangat sedikit yaitu sekitar 1% dari semua kasus kanker payudara.

Apa penyebab kanker payudara?


Penyebab pasti kanker payudara masih belum diketahui tapi faktor-faktor berikut dapat meningkatkan risiko kanker payudara :

Perempuan

Lebih dari 90% kasus kanker payudara diderita oleh perempuan. 

 Usia

Risiko terjadinya kanker payudara meningkat seiring dengan bertambahnya usia. 

✔ Genetik

Kanker payudara bukan penyakit herediter (penyakit yang diturunkan) tapi adanya mutasi gen yang dikenal dengan nama BRCA1 dan BRCA2 dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara.

✔ Riwayat keluarga

Kalau kamu mempunyai anggota keluarga, terutama keluarga inti (orang tua, saudara kandung), yang mengidap kanker payudara maka itu dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara.

✔ Riwayat adanya benjolan jinak

Tidak semua benjolan pada payudara berarti keganasan tapi, kalau ditemukan, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. 

✔ Riwayat kanker payudara sebelumnya

Kalau kamu pernah menderita kanker payudara maka itu dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker pada payudara yang sama atau pada payudara sebelahnya.

✔ Mengalami menstruasi pertama di usia <12 tahun

Hal ini dikarenakan tubuh akan lebih lama terpapar estrogen.

✔ Mengalami menopause di usia >55 tahun

Hal ini dikarenakan tubuh akan lebih lama terpapar estrogen.

✔ Belum pernah melahirkan atau melahirkan anak pertama di usia >35 tahun

Hal ini dikarenakan tubuh akan lebih lama terpapar estrogen (tidak terhalang oleh proses kehamilan).

✔ Tidak pernah menyusui

Hal ini dikarenakan tubuh akan lebih lama terpapar estrogen.

✔ Kelebihan berat badan atau obesitas

Kelebihan berat badan atau obesitas akan meningkatkan produksi estrogen.

✔ Kebiasaan merokok

Penelitian menunjukkan bahwa kasus baru kanker payudara terjadi 24% lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok dan 13% lebih tinggi pada mantan perokok dibandingkan dengan bukan perokok.

✔ Kebiasaan mengonsumsi alkohol

Alkohol dapat meningkatkan kadar estrogen dan merusak DNA dalam sel. 

✔ Paparan radiasi

Paparan radiasi seperti sinar roentgen atau CT scan dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Apa saja gejala kanker payudara?


Kanker payudara stadium awal biasanya tidak menunjukkan gejala yang khas tapi gejala-gejala berikut dapat dijadikan petunjuk :

✔ Benjolan pada payudara

Walaupun kebanyakan (90%) benjolan pada payudara bukanlah suatu keganasan tapi, kalau ditemukan, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

✔ Pembengkakan pada ketiak

Pembengkakan yang dimaksud adalah pembengkakan yang terjadi di luar masa menstruasi.

✔ Rasa nyeri pada payudara dan/atau ketiak

Rasa nyeri pada payudara dan/atau ketiak yang dimaksud adalah rasa nyeri yang muncul di luar masa menstruasi dan tanpa penyebab lain (misalnya, trauma).

✔ Ruam kemerahan

Terdapat di sekitar puting atau kulit payudara.

✔ Kulit payudara tampak seperti kulit jeruk

Dikenal dengan sebutan "peau d'orange (dibaca : po do rang)"

✔ Terdapat area yang mengeras pada payudara

Area yang mengeras ini terjadi sebagai akibat dari penebalan jaringan payudara.

✔ Keluar cairan yang tidak biasa dari puting (bukan ASI)

Kadang-kadang cairan tersebut mengandung darah.

✔ Perubahan pada puting

Misalnya, puting mengerut atau tertarik ke dalam, muncul rasa gatal dan/atau sensasi seperti terbakar pada puting.

✔ Perubahan bentuk dan atau ukuran payudara

Terdapat perbedaan bentuk dan atau ukuran kedua payudara yang mencolok.

Apakah kanker payudara dapat diterapi?


Ketika seseorang telah didiagnosis menderita kanker payudara maka terapi harus segera dimulai. Salah satu tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran sel-sel kanker ke organ-organ lain.

Terapi kanker payudara akan disesuaikan dengan tipe kanker, stadium kanker, usia dan keadaan penderita, ada atau tidaknya penyebaran, ada atau tidaknya penyulit dan ada atau tidaknya komplikasi lain. Terapi kanker payudara dapat berupa radioterapi, kemoterapi, operasi, terapi biologi dan atau terapi hormon.

Apakah kanker payudara dapat dicegah?

Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menurunkan risiko terjadinya kanker payudara. Utamanya adalah dengan menjalankan pola hidup sehat seperti berikut :

✔ Menerapkan pola makan dengan gizi seimbang

Penelitian menunjukkan bahwa makanan-makanan seperti buah, sayur, kacang-kacang, dan biji-biji dapat membuat tubuh lebih sehat, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan menjaga risiko kanker payudara serendah mungkin. Kanker payudara tidak umum terjadi di negara-negara yang mayoritas penduduknya mengkonsumsi sayur dan makanan rendah lemak (lemak jenuh dan lemak tak jenuh ganda).

✔ Olahraga teratur

Orang yang berolahraga secara teratur cenderung lebih sehat, lebih mungkin untuk mengendalikan berat badan dan sedikit atau, justru, tidak memiliki kelebihan lemak dibandingkan dengan orang yang tidak berolahraga. Kelebihan lemak akan menghasilkan kelebihan estrogen dan ketika sel-sel payudara terpapar kelebihan estrogen dari waktu ke waktu maka risiko kanker payudara akan meningkat.

✔ Mengendalikan berat badan

Diukur dengan Indeks Massa Tubuh (Body Mass Index).

✔ Berhenti merokok

Penelitian menunjukkan risiko kanker payudara invasif tertinggi terdapat pada perempuan yang mulai merokok pada usia dini. Perempuan yang mulai merokok sebelum siklus menstruasi pertamanya memiliki risiko kanker payudara 61% lebih tinggi bila dibandingkan dengan perempuan yang tidak merokok. Sementara perempuan yang mulai merokok setelah siklus menstruasi pertamanya tapi jauh sebelum memiliki anak maka perempuan tersebut memiliki risiko kanker payudara 45% lebih tinggi bila dibandingkan dengan perempuan yang tidak merokok. Hal ini dikarenakan jaringan payudara belum sepenuhnya berkembang sehingga membuat jaringan payudara lebih sensitif terhadap efek berbahaya dari tembakau.

✔ Berhenti mengonsumsi alkohol

Dibandingkan dengan perempuan yang sama sekali tidak mengonsumsi alkohol, perempuan yang mengonsumsi alkohol 3 kali dalam seminggu memiliki risiko 15% lebih tinggi untuk mengidap kanker payudara. Para ahli memperkirakan bahwa risiko terjadinya kanker payudara akan bertambah 10% untuk setiap penambahan alkohol yang diminum secara teratur setiap hari.

✔ Menyusui

Para peneliti dari University of Granada di Spanyol dalam Journal of Clinical Nursing melaporkan bahwa menyusui 1,5-2 tahun atau minimal 6 bulan dapat mengurangi risiko terjadinya kanker payudara. Hal ini dikarenakan siklus menstruasi pada perempuan menyusui lebih sedikit (ditambah dengan tidak menstruasi selama masa kehamilan) sehingga kadar estrogen menjadi lebih rendah. Selain itu, perempuan yang sedang menyusui akan cenderung makan makanan yang bergizi dan menjalani pola hidup sehat.

Apakah kanker payudara dapat dideteksi sejak dini?

Kanker payudara dapat dideteksi sejak dini. Deteksi dini dilakukan dengan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan pemeriksaan payudara klinis (SADANIS) yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.

Dianjurkan untuk melakukan SADARI setiap satu bulan sekali. SADARI sebaiknya dilakukan di antara hari ke-7 sampai hari ke-10 setelah hari pertama menstruasi (karena pada saat itu hormon estrogen dan progesteron berada pada kadar yang rendah) atau dilakukan setiap bulan pada tanggal yang sama bagi perempuan yang sudah menopause.

✔ Lepaskan semua pakaian bagian atas sehingga area pinggang ke atas terbebas sepenuhnya.

✔ Berdiri di depan cermin. Kedua payudara dan area sekitarnya harus dapat dilihat dengan jelas.

✔ Dengan kedua lengan berada di samping dalam keadaan santai, perhatikan kedua payudara.

Apakah kedua payudara terlihat simetris?
Apakah terdapat perubahan bentuk, ukuran, dan atau warna kulit pada kedua payudara?
Apakah terdapat perubahan pada puting?
Apakah terdapat perubahan pada kulit puting dan atau kulit payudara?
Apakah terdapat adanya pembengkakan?

Sebagai catatan, jangan panik ketika kamu menemukan payudaramu tidak simetris karena pada dasarnya kedua payudara memang tidak simetris walau perbedaannya sangat tipis.

sadari-kamu-bisa-menderita-kanker-payudara

✔ Letakkan kedua tangan di pinggang, bungkukkan bahu dan condongkan badan sedikit ke depan kemudian perhatikan kedua payudara seperti poin-poin di checklist ketiga.

✔ Letakkan kedua tangan di belakang kepala, dorong tangan ke depan dan perhatikan kedua payudara seperti poin-poin di checklist ketiga.

✔ Angkat salah satu lengan dan mulai raba payudara menggunakan ujung jari ke-2, 3, dan 4. Raba payudara dengan penekanan menggunakan salah satu atau lebih metode perabaan (lines, circles, wedges) seperti pada gambar di bawah.

sadari-kamu-bisa-menderita-kanker-payudara

Apakah terdapat benjolan pada payudara dan atau ketiak?
Apakah terdapat perubahan kontur dan atau tekstur pada payudara dan atau area sekitarnya?
Apakah terdapat pembengkakan pada ketiak?
Apakah terdapat area yang mengeras pada payudara?

Setelah selesai, ganti dengan lengan yang satunya.

✔ Remas perlahan kedua puting dan perhatikan apakah ada cairan yang keluar (bukan ASI).

✔ Ulangi langkah-langkah di atas dalam keadaan berbaring. Jangan lupa untuk mengganjal punggung atas dengan handuk atau bantal agar posisi payudara menjadi mendatar.

Banyak wanita melaporkan bahwa SADARI lebih mudah dilakukan saat sedang mandi karena pada saat itu kondisi kulit basah dan licin. Apabila dari pemeriksaan payudara ditemukan satu atau lebih hal yang tidak biasa maka segera periksakan diri ke dokter.

Mengingat laki-laki juga berisiko menderita kanker payudara maka laki-laki juga perlu melakukan SADARI tapi hanya sebatas puting karena kelenjar payudaranya tidak berkembang.

Pemeriksaan payudara juga dapat dilakukan dengan menggunakan ultrasonografi (USG) payudara/breast ultrasound dan mamografi. Pemeriksaan USG payudara atau mamografi, sebaiknya, dilakukan 1 minggu setelah bersih menstruasi sampai dengan 1 minggu sebelum menstruasi berikutnya agar hasil pemeriksaan maksimal dan mengurangi rasa tidak nyaman pada payudara. Untuk memudahkan saat proses pemeriksaan, pakailah pakaian berupa atasan dan bawahan (bukan pakaian terusan). Kalau sebelumnya sudah pernah melakukan USG payudara atau mamografi, sebaiknya, hasil pemeriksaan terdahulu dibawa pada pemeriksaan selanjutnya sebagai perbandingan.

✔ Ultrasonografi (USG) payudara/breast ultrasound

Adalah pemeriksaan payudara dengan alat khusus yang menggunakan gelombang suara. USG payudara efektif digunakan untuk wanita usia di bawah 35 tahun karena jaringan payudara di usia tersebut masih padat. Karena USG menggunakan gelombang suara maka pemeriksaan ini aman dilakukan pada wanita yang sedang hamil atau menyusui.

Lakukan USG payudara setiap satu tahun sekali atau sesuai petunjuk dokter.

✔ Mamografi

Adalah pemeriksaan payudara dengan alat khusus yang menggunakan sinar roentgen. Mamografi efektif digunakan untuk wanita usia di atas 35 tahun karena di usia tersebut payudara lebih banyak berisi lemak. Walaupun mamografi menggunakan sinar roentgen namun sejauh ini mamografi tidak terbukti merusak jaringan payudara atau menyebabkan penyebaran kanker payudara.

Untuk wanita berusia 40-45 tahun, sebaiknya, lakukan mamografi setiap 3 tahun sekali. Untuk wanita berusia 50 tahun, sebaiknya, lakukan mamograsi setiap 2-3 tahun sekali. Untuk wanita berusia 60 tahun, sebaiknya, lakukan mamografi setiap 1-2 tahun sekali.

Sebaiknya tidak menggunakan deodoran, bedak, dan atau krim pada payudara, daerah sekitar ketiak, dan ketiak ketika akan melakukan mamograsi karena bisa mengaburkan hasil pemeriksaan.

Terkadang pemeriksaan mamografi perlu dikombinasikan dengan ultrasonografi payudara untuk memperjelas hasil pemeriksaan. 

Jadi, sudahkah kamu memeriksa payudaramu? Kalau belum, sekarang adalah waktu yang tepat.

sadari-kamu-bisa-menderita-kanker-payudara

Terutama bagi perempuan, payudara adalah aset. Aset tidak hanya dalam makna estetis dan seksual tapi, lebih dari itu, payudara adalah perantara kehidupan. Melalui payudara, Tuhan menitipkan "bekal" pertama kehidupan anak-anak kita.

Bagi kamu yang belum menderita kanker payudara, kamu yang belum mempunyai anggota keluarga yang menderita kanker payudara, dan/atau kamu yang belum pernah berhubungan dengan para penderita kanker payudara, mungkin, ngga punya banyak gambaran seberapa bahaya dan seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh kanker payudara ini sehingga, mungkin, kamu merasa masih bisa mengabaikannya.

Tapi, bagiku, melihat wajah itu... melihat dada/payudara dengan bekas sayatan operasi... meraba dada/payudara yang sekeras papan... sangat cukup membuat hatiku lara.

Ada yang kemudian bertahan hidup, banyak juga yang tidak.

Perlu berapa banyak orang lagi supaya kamu sadar? Atau, kamu perlu mengalaminya dulu baru kesadaranmu muncul?

Aku bisa memahami kalau kamu memberikan alasan takut. Aku juga, sebenarnya, takut tapi bukan takut memeriksa diri tapi takut menderita kanker payudara dan rasa takut itu yang justru terus menyemangatiku untuk tidak mengabaikan payudaraku, tubuhku, kesehatanku, hidupku, anakku, hidup anakku...

sumber : www.thescarproject.org

sumber : www.thescarproject.org

sumber : www.thescarproject.org

sumber : www.thescarproject.org

Aku sangat berharap artikel ini bisa menggugah kesadaran dan keberanianmu untuk melakukan pencegahan dan memeriksakan diri. Aku juga sangat berharap kamu mau membantuku menyebarkan informasi tentang kanker payudara ini ke orang-orang yang kamu sayangi.

Kalau kamu punya pertanyaan dan/atau mau berbagi pengalaman, kolom komentarku terbuka untukmu ya.

Terima kasih sudah membaca artikel ini 😊

Lebih Baik Popok Kain Atau Popok Sekali Pakai?

22 March 2017
lebih-baik-popok-kain-atau-popok-sekali-pakai

[Artikel ini disponsori oleh Goo.N]

Beberapa waktu belakangan ini saya lihat di timeline media sosial saya banyak ibu yang membahas soal popok (diaper). Gemasnya, tidak sedikit dari mereka yang kemudian berdebat soal popok apa yang lebih baik dipakai bayi.

Sebenarnya tidak mengherankan bagi saya (dan mungkin kamu) kalau melihat ibu-ibu membahas sesuatu kemudian berujung pada perdebatan, hehehe, karena setiap ibu punya alasan berdasarkan keyakinannya masing-masing soal apa yang terbaik untuk bayinya sehingga mungkin merasa itu juga terbaik untuk bayi lain.

Nah, yang kasihan adalah calon-calon ibu atau ibu-ibu baru yang belum punya pengalaman sama sekali soal popok. Alih-alih mendapatkan informasi yang bisa membantu, calon-calon ibu atau ibu-ibu baru ini justru dibuat bingung dengan perdebatan yang terjadi.

Oleh karena itu, yuk kita bahas!

Popok apa yang lebih baik dipakai oleh bayi? Popok kain (cloth diaper) atau popok sekali pakai (disposable diaper)?

Dilihat dari segi kesehatan, tidak ada perbedaan yang mencolok antara popok kain dan popok sekali pakai karena intinya bukan di popoknya tapi seberapa sering orang tua mengganti popok bayinya dan seberapa bersih orang tua membersihkan kelamin dan bokong bayinya. Khususnya untuk popok sekali pakai, sejauh ini para ahli tidak melihat adanya masalah kesehatan jangka panjang mengingat adanya kemungkinan penggunaan bahan kimia dalam produksi popok sekali pakai. 

Seberapa sering sebaiknya orang tua mengganti popok bayi?

Untuk bayi baru lahir (newborn), sebaiknya, ganti popok setiap 2-3 jam sekali. Sedangkan untuk bayi yang usianya lebih besar dapat diganti setiap 3-4 jam sekali. Penuh maupun tidak penuh popoknya. Jika bayi buang air besar, segera ganti popoknya.

Baca juga : Mau Bayi Tidur Nyenyak Di Malam Hari? Ini Yang Saya Lakukan

Apa saja hal yang perlu diperhatikan ketika membersihkan kelamin dan bokong bayi? 
  • Bersihkan kelamin dan bokong bayi dengan air bersih atau tisu pembersih khusus bayi (hindari tisu pembersih yang mengandung alkohol dan atau wewangian). Bisa juga dengan menggunakan lap atau kain bersih. Jika menggunakan sabun, gunakan sabun khusus bayi sedikit saja dan bilas hingga bersih.
  • Untuk bayi laki-laki, bersihkan lipatan-lipatan kulit di sekitar penis dan testis tapi jangan pernah menarik kulit luarnya.
  • Untuk bayi perempuan, lakukan pembersihan dari arah depan ke belakang secara satu arah (jangan bolak balik) karena jika pembersihan dilakukan dari belakang ke depan maka kotoran dan kuman dari anus bisa terbawa masuk ke dalam vagina dan ini bisa menimbulkan masalah kesehatan. Selain itu, tidak perlu membersihkan hingga bagian dalam vagina karena vagina memiliki kemampuan membersihkan dirinya sendiri.
  • Setelah dibersihkan, keringkan kelamin dan bokong bayi menggunakan tisu khusus bayi, lap atau kain yang bersih dan kering.

lebih-baik-popok-kain-atau-popok-sekali-pakai

Nah, kalau dari segi kesehatan tidak ada perbedaan yang mencolok, lantas apa yang diperdebatkan?

Ada 3 hal yang saya catat :

Popok apa yang lebih baik untuk mengurangi risiko terjadinya ruam popok?

Dalam hal ini, tidak ada keputusan yang jelas apakah popok kain atau popok sekali pakai yang lebih baik untuk mengurangi risiko terjadinya ruam popok karena ruam popok dapat terjadi atas dasar berbagai sebab. Di antaranya adalah gesekan kulit dengan popok, popok yang sudah terisi urin dan atau feses tidak segera diganti (lembab), jamur, bakteri dan reaksi alergi.

Kebanyakan ahli berpendapat bahwa popok sekali pakai dapat mengurangi risiko terjadinya ruam popok karena popok sekali pakai dilengkapi dengan fitur-fitur yang dapat membuat permukaan popok tetap kering. Sedangkan popok kain tidak dilengkapi dengan fitur-fitur tersebut sehingga popok lebih mudah basah dan lembab.

Walau begitu, orang tua yang memutuskan untuk memakaikan bayinya popok kain tetap dapat mengurangi risiko terjadinya ruam popok dengan cara meminimalkan jumlah waktu kontak antara kelamin dan bokong bayi dengan urin dan atau feses yang artinya orang tua harus rutin dan segera mengganti popok bayi apabila popok terisi urin dan atau feses.

Selain itu, ruam popok juga dapat dicegah dengan cara :
  • Mencuci tangan sebelum dan sesudah mengganti popok bayi untuk mencegah penyebaran dan perpindahan kotoran dan kuman.
  • Memastikan kulit bayi benar-benar bersih dan kering sebelum memakaikan popok yang baru.
  • Menggunakan krim anti ruam sebelum memakaikan popok.
  • Jika menggunakan popok kain, pilihlah popok yang berbahan lembut. Saat mencuci popok, pisahkan popok dengan pakaian lain dan cuci popok dengan menggunakan deterjen khusus pakaian bayi (sebaiknya tidak menggunakan pelembut atau pewangi pakaian).
  • Jika menggunakan popok sekali pakai, pilihlah popok yang mempunyai fitur pee lock system yang dapat menyerap urine secara maksimal dan menguncinya agar tidak kembali ke permukaan sehingga permukaan popok tetap kering, fitur pee sign yang memudahkan orang tua untuk mengetahui kapan popok harus diganti dan fitur lapisan bergelombang atau berpori (breathable layer) sehingga tidak semua permukaan popok menempel pada kulit bayi. 
  • Sesuaikan ukuran popok dengan berat badan bayi. Berat badan bayi akan mempengaruhi banyaknya jumlah urin dan feses bayi. Jika ukuran popok bayi tidak sesuai dengan berat badan bayi maka popok tidak dapat menampung urin dan feses yang dikeluarkan bayi. Selain itu, berat badan bayi akan mempengaruhi lingkar perut dan lingkar paha bayi. 
Popok apa yang lebih hemat?

Popok kain dan popok sekali pakai sama-sama bisa membuat orang tua tidak hemat. Hanya saja dengan jalur yang berbeda.

Dari segi biaya untuk pembelian popok, popok kain memang lebih hemat dibandingkan dengan popok sekali pakai karena popok kain dapat dicuci dan dipakai lagi berulang kali. Selain itu, popok kain dapat disimpan untuk digunakan oleh anak kedua dan seterusnya sehingga dapat meminimalisir biaya perlengkapan bayi di masa yang akan datang. Tapi, popok kain memerlukan air, deterjen dan listrik untuk proses pencuciannya. Jika orang tua tidak bijak menggunakan air, deterjen dan listrik maka biaya yang sudah bisa dihemat dari pembelian popok tadi justru dapat bertambah untuk biaya air, deterjen dan listrik yang berlebihan. Sedangkan dari segi tenaga dan waktu, popok sekali pakai tentu lebih hemat dibandingkan dengan popok kain karena tidak perlu dicuci. Terlebih lagi jika musim hujan tiba.

Sebagai salah satu solusi berhemat, orang tua yang memutuskan untuk memakaikan bayinya popok kain perlu bijak dalam menggunakan air, deterjen dan listrik saat proses pencucian popok. Sedangkan orang tua yang memutuskan untuk memakaikan bayinya popok sekali pakai dapat memanfaatkan promo atau diskon yang diadakan oleh produsen atau penjual popok sekali pakai agar bisa berhemat. 

Popok apa yang lebih ramah lingkungan?

Popok kain dan popok sekali pakai sama-sama mempunyai pengaruh negatif terhadap lingkungan. Hanya saja dengan jalur yang berbeda.

Popok kain menghabiskan lebih banyak air, deterjen dan listrik untuk proses pencuciannya dan air hasil pencuciannya pun bisa menjadi limbah bagi lingkungan. Sedangkan popok sekali pakai membutuhkan lebih banyak bahan baku dalam produksinya dan menghasilkan lebih banyak sampah.

Walau begitu, orang tua yang peduli terhadap lingkungan tetap bisa go green kok... Jika orang tua memutuskan untuk memakaikan bayinya popok kain, pilihlah popok kain yang terbuat dari katun organik. Sedangkan jika orangtua memutuskan untuk memakaikan bayinya popok sekali pakai, pilihlah popok sekali pakai yang tidak mengandung chlorin sehingga akan mengurangi bahaya racun dioxin (chlorin adalah bahan kimia yang digunakan sebagai pemutih).

lebih-baik-popok-kain-atau-popok-sekali-pakai

Jadi, pemakaian popok kain atau popok sekali pakai hanya soal preferensi (pilihan) yang tentunya disesuaikan dengan kondisi dan kenyamanan bayi, kondisi dan kenyamanan ibu dan anggaran belanja rumah tangga. Tidak ada yang perlu diperdebatkan, apalagi kalau kemudian mendiskreditkan pilihan ibu lain yang berbeda, karena kondisi setiap bayi, setiap ibu dan setiap rumah tangga tidak selalu sama. Bukankah yang penting bayinya pakai popok? Hehehe ;p

Kalau kamu mau bertanya atau berbagi pengalaman, kolom komentar saya terbuka ya ;)

Auto Post Signature

Auto Post Signature