Top Social

Pengalaman Vaksinasi COVID-19

16 January 2021

vaksinasi-covid-19

Vaksinasi COVID-19 adalah salah satu bentuk upaya pencegahan penyebaran COVID-19. Program vaksinasi COVID-19 dilaksanakan dalam 4 tahap dan telah dimulai pada tanggal 13 Januari 2021. Vaksinasi COVID-19 Tahap 1 menyasar tenaga kesehatan. Sebagai salah satu tenaga kesehatan, ini adalah pengalaman saya divaksinasi COVID-19.


Alhamdulillaah, di hari Jumat tanggal 15 Januari 2021, saya sudah divaksinasi COVID-19. Saya divaksinasi di RS Brawijaya Saharjo jadi bisa sekalian nyobain RS baru deh 😜


Di RS Brawijaya Saharjo, vaksinasi bertempat di lantai 8 yang merupakan area terbuka jadi memang dipisahkan dari kegiatan RS secara umum. Setelah sampai di lantai 8, saya diarahkan ke Area Pendaftaran. Saya tunjukkan Tiket Vaksinasi yang saya dapat setelah melakukan registrasi ulang di website PeduliLindungi untuk di-scan barcode-nya. Kemudian, petugas pendaftaran meminta saya menunjukkan KTP untuk pencocokan data.


vaksinasi-covid-19


Setelah dipastikan datanya cocok, saya diarahkan ke Area Screening. Di sini, petugas mengukur suhu tubuh dan tekanan darah saya. Kemudian, petugas menanyakan apakah, saat ini, saya mempunyai keluhan kesehatan atau mengalami gejala-gejala tertentu dan menanyakan riwayat penyakit.


Nah, mengenai riwayat penyakit, penting untuk mengetahui riwayat penyakit karena orang-orang dengan kondisi tertentu tidak bisa menerima vaksin COVID-19 atau harus ditunda pemberian vaksinnya:

! pernah terkonfirmasi menderita COVID-19;

! ada anggota keluarga serumah yang terkonfirmasi atau sedang dalam perawatan atau suspect atau kontak erat dengan orang terkonfirmasi COVID-19;

! sedang hamil atau menyusui;

! mengalami gejala batuk, pilek, sesak napas dalam 7 hari terakhir;

! memiliki riwayat alergi berat;

! sedang mendapatkan terapi jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah;

! menderita penyakit autoimun sistemik, seperti penyakit lupus;

! menderita penyakit hipotiroid atau hipertiroid karena autoimun;

! menderita penyakit saluran pencernaan kronis;

! menderita tekanan darah tinggi / hipertensi;

! menderita penyakit jantung;

! menderita penyakit kencing manis / diabetes melitus;

! menderita penyakit ginjal kronis;

! menderita penyakit Rheumatoid Arthritis;

! menderita penyakit kanker;

! menderita penyakit HIV/AIDS.


Dengan catatan:

! orang yang mengalami demam (suhu tubuh 37.5 derajat Celcius atau lebih), pemberian vaksin COVID-19 harus ditunda sampai orang tersebut tidak demam dan terbukti penyebab demamnya bukan COVID-19;

! orang yang menderita penyakit paru seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), pemberian vaksin harus ditunda sampai penyakit parunya terkendali dengan baik;

! orang yang menderita penyakit TBC dan sedang dalam pengobatan dapat diberikan vaksin COVID-19 minimal setelah dua minggu mendapatkan obat anti tuberkulosis (OAT);

! orang yang menderita penyakit kencing manis / diabetes melitus dapat diberikan vaksin COVID-19 jika penyakit kencing manisnya terkontrol dan nilai HbA1C di bawah 7.5%


Kenapa orang-orang dengan kondisi tersebut di atas tidak bisa menerima vaksin COVID-19 atau harus ditunda pemberiannya? Hal ini dikarenakan data mengenai keamanan dan potensi efek samping yang mungkin terjadi dari vaksinasi COVID-19 terhadap orang-orang dengan kondisi tersebut di atas belum ada. Kita doakan semoga datanya segera ada. Sementara itu, kita yang bisa divaksinasi, tolong, divaksinasi ya supaya mereka yang tidak bisa divaksinasi COVID-19 atau harus ditunda pemberian vaksinnya bisa terlindungi juga 🙏 


Lanjut ya.


Setelah saya dinyatakan lolos screening, saya diarahkan ke Area Vaksinasi. Saya dipersilakan duduk dan petugas mulai menyiapkan peralatan yang diperlukan: botol vaksin dikeluarkan dari cool box, jarum suntik dipastikan baru, dan kapas beralkohol dan plester siap digunakan.


Sebelum proses vaksinasi dimulai, petugas kembali memastikan data saya (nama lengkap dan tanggal lahir). Kemudian, petugas menunjukkan botol vaksinnya ke saya. Sayangnya, saya lupa mendokumentasikan botol vaksinnya 😅🙏 Tapi, sama dengan yang digunakan untuk Bapak Presiden kok 😁 Jadi, petugas memperlihatkan nama vaksinnya, botol vaksin yang masih dalam kondisi tersegel, dan tanggal kadaluarsa vaksin. Coba, nanti, saya usahakan untuk mendokumentasikannya ketika penyuntikan vaksin COVID-19 kedua ya 😉


Proses vaksinasi pun dimulai. Jujur, SAYA DEG-DEGAN 😆 Deg-degannya lebih karena, ya, walau bagaimana, ini adalah hal baru dan dari pihak RS banyak yang mendokumentasikan prosesnya secara saya adalah orang pertama yang divaksinasi di rumah sakit itu 😅 Padahal, proses vaksinasinya seperti proses vaksinasi pada umumnya. Saya kan rutin vaksinasi Influenza juga setiap tahun jadi, ya, sebenarnya, biasa aja 😁


Baca jugaCegah Influenza Dengan Vaksin Influenza


vaksinasi-covid-19


Setelah disuntik, saya merasa pegal di area penyuntikan (vaksin disuntikkan di lengan kiri atas saya). Tapi, rasa pegalnya minimal banget kok. Malah, menurut saya, lebih terasa pegal waktu saya divaksinasi Hepatitis B dan PCV.


Setelah proses vaksinasi selesai, saya diminta menunggu selama 30 menit di Area Observasi untuk dipantau apakah saya mengalami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau tidak.


Saya jelaskan sedikit mengenai KIPI ya.


KIPI adalah reaksi tubuh penerima vaksin setelah pemberian vaksin. KIPI dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya adalah kesehatan dan kondisi seseorang saat menerima vaksin dan proses vaksinasi itu sendiri. Oleh karena itu, KIPI tidak selalu terjadi pada setiap orang yang divaksinasi. Namun, apabila terjadi, gejala KIPI dapat berbeda-beda pada setiap orang dan dapat terjadi pada tingkatan yang berbeda-beda pula (mulai dari gejala ringan sampai gejala berat).


Gejala KIPI dapat bersifat lokal atau sistemik. Gejala KIPI yang bersifat lokal dapat berupa kemerahan, rasa nyeri, rasa gatal, dan/atau bengkak pada area penyuntikan vaksin. Gejala KIPI yang bersifat sistemik dapat berupa demam, sakit kepala, dan/atau tubuh terasa lemas. Gejala KIPI yang ringan, biasanya, terjadi sesaat setelah penyuntikan vaksin dan dapat membaik dengan atau tanpa pengobatan dalam waktu yang relatif cepat. Sedangkan gejala KIPI yang berat, seperti reaksi alergi berat (anafilaktik) terhadap kandungan vaksin dan kejang, cenderung jarang terjadi. Namun, apabila terjadi, dengan tata laksana yang cepat dan tepat, semua gejala KIPI yang berat dapat diatasi dan sembuh total tanpa adanya dampak jangka panjang.


Alhamdulillaah, selama 30 menit menunggu, selain rasa pegal, saya tidak mengalami gejala-gejala KIPI lain seperti kemerahan, rasa gatal, dan/atau bengkak di area penyuntikan. Malah, waktu saya divaksinasi Hepatitis B yang muncul kemerahan dan rasa gatal di area penyuntikan. Saya juga tidak merasa kepala saya ringan, pusing, sakit kepala, sesak napas, mual, dan/atau muntah. Secara garis besar, saya merasa kondisi saya sama seperti sebelum divaksinasi.


Setelah 30 menit, saya dipanggil ke Area Sertifikasi. Di sini, saya diedukasi mengenai KIPI. Termasuk, kalau saya mengalami KIPI di rumah, saya harus menghubungi siapa (contact person di RS Brawijaya Saharjo). Selain itu, saya juga diinformasikan untuk menjalani penyuntikan vaksin COVID-19 kedua selang 14 hari setelah penyuntikan vaksin COVID-19 pertama dan dijelaskan prosedurnya. Kemudian, pihak RS Brawijaya Saharjo mengeluarkan sertifikat yang menyatakan saya sudah menjalani penyuntikan vaksin COVID-19 pertama dan tidak mengalami KIPI. Nah, mengenai sertifikat ini, sebenarnya, sertifikat yang diberikan RS Brawijaya Saharjo bersifat back-up karena, begitu keterangan bahwa kita sudah menjalani penyuntikan vaksin COVID-19 pertama dimasukkan ke sistem, sistem sudah otomatis akan mengeluarkan sertifikat digital. Seperti pengalaman saya, setelah saya mendapatkan sertifikat dari RS Brawijaya Saharjo, sms dari 1199 yang berisi link sertifikat digital saya masuk ke inbox nomor saya.


Alhamdulillaah, penyuntikan vaksin COVID-19 pertama selesai 💖


Saya ke RS kan sendiri ya, nyetir mobil sendiri. Nah, setelah menjalani penyuntikan pertama vaksinasi COVID-19, saya nyetir mobil pulang ke rumah rasanya, ya, biasa aja. Saya tetap berdendang dan bergoyang (((berdendang dan bergoyaaanngg))) mengikuti irama lagu di song play list aplikasi Spotify saya seperti biasa 🙆


Nah, kurang lebih 3.5 jam pasca vaksinasi, saya merasa tubuh saya hangat. Tapi, waktu saya ukur suhu tubuh saya, suhu tubuh saya 36.7 derajat Celcius. Artinya, ya, bukan demam. Apakah saya minum obat penurun demam? Ngga. Kan ngga demam. Sayanya juga ngga rewel kok (anak-anak kali ah...) 😝 Rasa pegal yang saya rasakan juga saya biarin aja. Saya ngga minum obat pereda nyeri. Toh rasa pegalnya minimal ini. Waktu saya vaksinasi Hepatitis B, saya juga merasa tubuh saya hangat kayak gini. Waktu itu, saya ukur suhu tubuh saya 37 derajat Celcius. Waktu itu, saya juga ngga minum obat penurun demam. Alhamdulillaah membaik dengan sendirinya. Jadi, saya bisa simpulkan bahwa ini adalah hal yang normal.


Alhamdulillaah, saya tidak merasa mual dan/atau muntah. Saya tetap makan siang dengan nikmat. Setelah saya makan siang, tubuh saya yang tadinya terasa hangat jadi tidak terasa hangat lagi 😅 Jadi, kayaknya, rasa hangat itu semacam tubuh saya memberikan sinyal ke saya untuk segera makan siang karena memang sudah waktunya makan siang dan minum yang banyak secara tubuh saya sedang bekerja keras membentuk "tentara-tentara pertahanan" ya. Mungkin, maksudnya, yuk tolong dibantu yuk dengan pasokan nutrisi mumpung sudah waktunya juga gitu 😌 


Alhamdulillaah, saya tidak merasa kepala saya ringan, pusing, sakit kepala, atau semacamnya. Saya tetap tidur siang dengan nyenyak. Malah, sebelumnya, saya sempat nonton drama Korea dulu 😜


Untuk sementara, tips dari saya:


Pertama, yakin. Saya meyakini vaksinasi COVID-19 adalah bentuk ikhtiar lain yang ada dan bisa kita gunakan untuk mencegah penyebaran COVID-19. Saya meyakini vaksinasi COVID-19 adalah bentuk ikhtiar lain yang ada dan bisa kita gunakan tidak hanya untuk melindungi diri kita sendiri tapi juga untuk melindungi orang-orang yang kita sayangi. Apalagi vaksinnya digratiskan dan saya, sebagai tenaga kesehatan, diprioritaskan untuk mendapatkannya. Ingat, vaksinasi itu termasuk hak kita loh. Hak kita untuk hidup sehat. 


Kedua, jaga kondisi tubuh supaya kondisi tubuh kita prima pada hari penyuntikan.


Ketiga, sarapan atau makan siang dulu ya 😉


Sampai sini, saya bisa menyimpulkan bahwa penyuntikan vaksin COVID-19 pertama berjalan lancar, aman, dan nyaman. Tentu cerita ini belum selesai karena saya masih terus memantau kondisi saya selain karena saya masih harus menjalani penyuntikan vaksin COVID-19 kedua selang waktu 14 hari. Jadi, saya akan update terus cerita ini 😉


Kalau kamu mau tanya, saya persilakan ya. Kolom komentar saya terbuka. Terima kasih sudah membaca. Semoga kita semua sehat selalu 😊


Updated 7 jam pasca vaksinasi COVID-19: 

Alhamdulillaah, saya sama sekali tidak merasakan rasa pegal di area penyuntikan yang sebelumnya saya rasakan.


Updated hari ke-1 (1x24 jam) pasca vaksinasi COVID-19:

Alhamdulillaah, saya tidak merasakan gejala apapun. Malamnya, saya tetap makan malam dengan nikmat dan tetap tidur dengan nyenyak. Paginya, saya bangun tidur seperti biasa. Selama 1x24 jam, suhu tubuh saya terpantau berada dalam rentang 36.2 derajat Celcius sampai 36.9 derajat Celcius. Ini kok saya semacam bikin morning report zaman ko-asisten dulu ya 😂 Ya, intinya, Alhamdulillaah, saya sehat 😌


Updated hari ke-3 pasca vaksinasi COVID-19:

Alhamdulillaah, saya tidak merasakan gejala apapun. Alhamdulillaah, saya sehat 😌


Updated hari ke-7 pasca vaksinasi COVID-19:

Alhamdulillaah, saya tidak merasakan gejala apapun. Alhamdulillaah, saya tetap sehat 😉

Kenapa Memilih Kedokteran Penerbangan (Bagian Pertama)

14 January 2021

 kenapa-memilih-kedokteran-penerbangan


Program Studi (Prodi) Spesialis Kedokteran Penerbangan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia didirikan pada tahun 2010 dan merupakan program studi Ilmu Kedokteran Penerbangan yang pertama tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Asia.


Ketika orang-orang tahu bahwa aku melanjutkan pendidikan ke Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan menyebut spesialisasi yang aku ambil adalah Kedokteran Penerbangan, bisa dibilang, hampir semuanya asing dengan Kedokteran Penerbangan. Hampir semuanya merespons dengan bertanya,


"Apa itu Kedokteran Penerbangan?"


Wajar karena, memang, Ilmu Kedokteran Penerbangan belum sepopuler cabang ilmu-cabang ilmu kedokteran lain yang sudah lebih dulu eksis di Indonesia. Program studinya saja baru berusia 10 tahun. Walau begitu, sebenarnya, Ilmu Kedokteran Penerbangan ini sangat dekat dengan kita karena penerbangan bukan hal baru untuk kita. Penerbangan sudah menjadi keseharian kita. Lebih dalam tentang prodi Kedokteran Penerbangan akan aku jelaskan di artikel terpisah ya 😉


Baca juga: Menjadi Seorang Dokter


Pertanyaan selanjutnya,


"Kenapa memilih Kedokteran Penerbangan?"


Jawaban cepatku, "... karena dokter yang mengurusi kesehatan manusia di darat sudah banyak tapi dokter yang mengurusi kesehatan manusia di udara belum banyak,"


Tapi, the real answer is,


"... karena itu jalannya,"


and this is the story behind it.


Jadi, waktu aku mau melanjutkan pendidikan ke PPDS, Kedokteran Penerbangan bukan prodi pilihanku karena aku ngga tahu prodi ini ada 😁 Aku baru tahu prodi ini ada sekitar tahun 2013-2014. Menurutku, segala sesuatu yang baru, yang belum banyak orang tahu, yang belum banyak orang berkecimpung di dalamnya akan selalu menarik perhatian. Tapi, waktu itu, aku tertarik saja. Aku ngga lantas nyari tahu tentang Kedokteran Penerbangan karena aku masih menuju tujuanku.


Daftarlah aku ke prodi tujuanku. Usaha pertama gagal. Aku ngga diterima. Ayo coba lagi. Usaha kedua. Nah, di usaha yang kedua ini, entah ada apa dengan semesta. Jadi, jelang ujian prodi, aku scrolling timeline Twitter dan flyer Aerospace Medicine Day muncul. Rasa tertarik aku yang waktu itu ada muncul lagi. Terus, aku yang, "Daftar ah,". Daftarlah aku ke Aerospace Medicine Day. Selesai mendaftar, batinku bilang,


"Kalau di usaha yang kedua ini gagal lagi, coba sekali lagi ya, Din. Tapi, nyobanya ke Kedokteran Penerbangan,"


EH, KEJADIAN DONG! Usaha yang kedua membuahkan hasil kegagalan lagi. Aku ngga diterima lagi di prodi tujuanku.


Aku sempat merasa capek karena, ya, memang capek. Daftar-ujian-ujian-ujian-ujian-ujian-ujian-nunggu hasil supaya bisa diterima di PPDS itu capek dan makan banyak waktu, tenaga, pikiran, perasaan, dan uang. Tapi, ya, itu. Di dalam diriku kayak nyemangati,


"Ayo, Din. Sekali lagi. Tapi, ke Kedokteran Penerbangan,"


Berhubung aku termasuk orang yang ngga mau menyesal karena aku ngga pernah nyoba, daftarlah aku ke Kedokteran Penerbangan. Alhamdulillah, aku diterima di usahaku yang pertama 💖


Aku memaknai pengalaman ini sebagai, mungkin, Tuhan sedang mengajari aku bahwa jalan yang selama ini aku usahakan dengan sebegitunya Dia "gagalkan" karena jalan itu bukan jalanku. Belum tentu karena jalan itu ngga baik buatku atau sebaliknya. Tapi, aku mikirnya, ya, aku dan jalan itu ngga jodoh.


Jalanku bukan yang itu, tapi yang ini 😊

Bertahan

13 August 2020
refleksi-diri

Tulisan ini adalah esai tentang refleksi diri yang saya buat sebagai salah satu pemenuhan persyaratan ujian program studi Kedokteran Penerbangan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tulisan ini saya tulis ulang di blog DINIPUSPITA dengan tujuan sebagai pengingat dan penyemangat.

Saya sedang dalam 'perjalanan' mewujudkan cita-cita saya menjadi dokter spesialis ketika saya dinyatakan hamil. Di satu sisi, saya hamil. Di sisi lain, saya harus menunda 'perjalanan' saya karena kondisinya tidak memungkinkan. Utamanya karena kehamilan saya yang sangat tidak mudah.

Selama saya hamil, saya mengalami perdarahan dan pengentalan darah yang mengakibatkan, di awal masa kehamilan, saya harus merelakan satu dari dua janin yang saya kandung. Ditambah, letak plasenta saya rendah dan sempat ada bagiannya yang tidak menempel pada dinding rahim. Juga, di akhir masa kehamilan, air ketuban saya hampir habis yang membuat saya harus melahirkan dua minggu lebih cepat dari waktu perkiraan.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang merawat saya mengusahakan semua yang bisa diusahakan untuk mengatasi kondisi saya tersebut guna mempertahankan janin yang saya kandung. Utamanya, beliau menyarankan saya untuk total bed rest. Kata beliau, "Apa yang bisa dilakukan di tempat tidur, silakan dilakukan. Apa yang tidak bisa dilakukan di tempat tidur, sebaiknya, tidak dilakukan untuk sementara waktu,"

Tidak bisa melakukan apa-apa sendiri dan harus 'diam' di tempat tidur untuk waktu yang tidak sebentar sempat membuat saya putus asa. Kata mama, "Mungkin ini ujian dari Allah buat Dini karena Allah mau melihat kesungguhan Dini menjadi orang tua. Kan Dini sendiri yang mau punya anak. Dini harus 'lulus' ujian ini," Saya, kemudian, belajar untuk menerima dan berserah. Sebagai manusia, saya memang harus berusaha semaksimal mungkin tapi saya juga harus berserah setelahnya. Tuhanlah yang punya kuasa dan Dia sedang menunjukkannya.

Saya pikir, saya sudah mengalami masa terberat dalam hidup saya. Ternyata belum. Masa kehamilan bukan masa terberat melainkan seperti 'pemanasan' karena setelahnya, tahun 2018, adalah masa terberat dalam hidup saya selama ini. Di bulan Januari, papa saya tiba-tiba jatuh di kamar mandi setelah selesai berwudu untuk menunaikan salat duha. Sejak saat itu, beliau tidak sadarkan diri sampai akhir hidupnya. Ditinggalkan papa untuk selamanya meluluhlantakkan kepercayaan diri saya. Saya seperti kehilangan pegangan dan perlindungan.

Saya sempat merasa bersalah atas meninggalnya papa karena saya merasa tidak bisa menjaga dan menyelamatkan papa. Saya merasa tidak bisa 'membaca' tanda-tanda yang ada. Saya merasa semua ilmu dan keterampilan medis yang saya punya seperti tidak ada gunanya. Saya bahkan pernah menyampaikan ke mama, "Ma, maafin Dini ya. Dini ngga bisa jagain papa," Tapi, begitulah mama saya. Seorang perempuan, seorang istri, sekaligus seorang ibu yang kuat, sabar, dan ikhlas. Beliau berkata, "Jangan mikir dan merasa seperti itu. Papa meninggal bukan salah Dini tapi memang sudah jalannya. Papa sudah sampai pada 'umurnya'. Bagaimanapun Dini menjaga papa, kalau Allah sudah berkehendak, ya, ngga ada yang bisa mengubah takdirNya,"

Di tahun yang sama, hanya berselang 5 bulan setelah papa meninggal dunia, saya menggugat cerai suami saya. Keputusan yang harus saya ambil saat duka keluarga kami masih jauh dari usai. Saya semakin merasa bersalah kepada mama. Sebagai seorang anak, seharusnya, saya membawa suka untuk menguatkan beliau melewati masa duka. Sebaliknya, saya malah menambah duka. Tapi, justru, mama yang menguatkan saya, "Buat mama, yang penting Dini bahagia,"

Ketika memutuskan bercerai, ada rasa penyesalan dalam diri saya. Bukan menyesal karena perceraiannya tapi menyesal karena saya tidak bisa memberikan hak anak saya untuk bertumbuh dan berkembang dalam 'rumah' yang utuh. Anak saya baru berusia dua tahun tapi saya sudah memberikan masalah besar padanya.

Saya tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan diri saya saat itu. Hidup saya terus berjalan dan saya punya anak yang hidupnya baru saja dimulai. Saya bergelut dengan diri saya sendiri. Saya berusaha untuk 'menyatukan diri' saya kembali. Saya berusaha untuk menata hidup saya kembali. Sulit? Sulit. Saya sebagai diri saya, saya sebagai seorang ibu, saya sebagai seorang anak, dan saya sebagai seorang dokter sekaligus tentu sulit. Bukan main. Rasanya waktu 24/7 sangat tidak cukup. Saya lebih banyak diam, sering menangis, karena lelah. Rasanya hidup keras sekali menempa saya.

Saking sulitnya, saya hampir menyerahkan cita-cita saya menjadi dokter spesialis. Sungguh, saat itu, saya tidak bisa lagi membayangkan saya bisa mewujudkan cita-cita itu. Sepertinya, cita-cita itu menjadi sangat jauh dari jangkauan saya. Saya pikir, saya cukupkan saja sampai di sini. Toh, menjadi dokter umum adalah pencapaian luar biasa bagi saya dan keluarga saya. Saya pikir, saya semangat kerja saja supaya saya dapat menjamin masa depan yang baik untuk anak saya. Ketika saya utarakan hal itu ke mama, mama hanya berkata, "Jangan sampai Dini menyesal," Kalimat sederhana itu mengena. Berhari-hari saya pikirkan kembali tentang hal itu. Sampai, kemudian, anak saya yang menyadarkan saya.


Anak saya perempuan. Oleh karena itu, saya ingin menjadi perempuan yang selalu ia lihat pertama kali dalam berbagai hal. Termasuk pendidikan. Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya dan bisa menjadi apapun yang dimau. Saya tidak tahu apakah menjadi dokter spesialis termasuk dalam takdir saya. Saya pikir hanya ada satu cara untuk mengetahuinya yaitu dengan mencoba dan mengusahakannya. Seandainya tidak termasuk, saya bisa menunjukkan pada anak saya bahwa saya mencoba dan mengusahakannya.

Setelah semua yang terjadi, saya melihat diri saya baik-baik saja. Saya tetap bisa menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasanya, termasuk praktik, walau sekarang ada ruang yang menjadi kosong untuk selamanya dan saya masih selalu menangisi itu. Sampai sekarang pun. Bahkan ketika saya membuat tulisan ini.

Alhamdulillah, saya mempunyai support system yang sangat baik sehingga semua yang saya alami bisa saya maknai sebagai pembelajaran hidup dan menyadarkan saya akan kemanusiaan saya dan kemampuan diri saya. Saya jatuh. Wajar. Begitulah hidup. Saya mengizinkan diri saya untuk berduka tapi saya tidak mengizinkan diri saya terlarut di dalamnya. Seperlunya. Iya. Saya belajar untuk tetap sadar mengendalikan diri bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun. Hidup memang tidak memberikan saya dispensasi. Oleh karena itu, saya yang harus mengubah pola pikir dan pola rasa saya agar menjadi manusia yang tangguh.

Inilah saya yang, melalui tulisan ini, sedang berusaha mewujudkan cita-cita saya menjadi dokter spesialis 😊

refleksi-diri

Auto Post Signature

Auto Post Signature