Top Social

Perlukah Anak Diberi Hukuman Fisik Agar Terdidik?

05 July 2016
perlukah-anak-diberi-hukuman-fisik-agar-terdidik

Disclaimer : Isi artikel ini murni pendapat pribadi saya dan tidak membela pihak manapun. Artikel ini saya buat dengan tujuan membuka sudut pandang baru sekaligus mengingatkan yang mungkin terlupa.

Berhari-hari jelang Idulfitri kemarin, timeline media sosial saya dipenuhi berita seorang guru yang diperkarakan orang tua muridnya karena guru tersebut dikabarkan mencubit anak muridnya yang nakal.

Berita seperti ini bukan berita baru. Bukan juga kasus baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Sebelumnya sudah ada beberapa guru yang juga diperkarakan oleh orang tua muridnya karena alasan memberikan hukuman fisik.

Tadinya saya tidak mau berkomentar tapi, kemudian, melihat perkembangan kasus orangtua versus guru ini, pikiran dan perasaan saya 'berontak'.

Perlukah anak diberi hukuman fisik agar terdidik?

Orang tua saya sangat keras mendidik saya, terlebih soal agama dan etika. Satu contoh, saat saya masih kecil, papa saya tidak berpikir dua kali untuk mengambil sapu lidi dan mengibas-ibaskannya ketika satu hari saya tidak segera salat magrib setelah azan magrib berkumandang karena saya asyik nonton televisi. Walau akhirnya sapu lidi tersebut tidak pernah mendarat di tubuh saya dan hanya udara yang merasakan pukulannya.

Contoh lain, satu hari saya pernah menangis - saya lupa menangis karena apa. Saat itu, papa saya berkata, "Jangan cengeng! Kamu itu anak Sumatera. Ngga ada ceritanya anak Sumatera cengeng. Jangan bikin malu darah Sumatera kamu dengan menangis karena alasan sepele. Jadi perempuan harus kuat!"

Salah satu cara orang tua saya mendidik anak-anaknya adalah dengan berkomunikasi. Mereka memilih untuk ngajak ngobrol anak-anaknya. Mereka memilih untuk 'repot' menjelaskan, alih-alih beralasan. Mereka memilih untuk menelaah masalah dan mencari solusi, alih-alih marah dan emosi.

Soal sekolah, orang tua saya memastikan benar bahwa mereka menyiapkan anak-anaknya untuk sekolah. Orang tua saya memastikan benar bahwa saya siap sekolah supaya saya tidak berbuat macam-macam apalagi melakukan sesuatu yang melanggar sehingga orang lain tidak perlu repot melakukan hal-hal yang tidak perlu seperti memberi hukuman, apalagi hukuman fisik.

Perlukah anak diberi hukuman fisik agar terdidik?

Ramai orang menjawab perlu. Bahkan tidak sedikit orang yang berpikir seorang anak pantas diberi hukuman fisik atas kesalahannya yang kemudian dikaitkan dengan sabda Rasulullah SAW berikut ini (yang maknanya),

"Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika mereka tidak mengerjakan salat pada usia sepuluh tahun, dan (pada usia tersebut) pisahkanlah tempat tidur mereka." (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Saya perlu mengingatkan bahwa, di balik sabdanya itu, Rasulullah SAW mensyaratkan beberapa hal, seperti :

  • Pukulan diberikan apabila anak masih juga belum melaksanakan salat setelah diperintahkan dan setelah diberi motivasi untuk melaksanakannya. Artinya, pukulan tersebut tidak serta merta diberikan tapi merupakan pilihan terakhir dan dipastikan pukulan itu bermanfaat.
  • Pukulan yang diberikan adalah pukulan ringan yang tidak melukai (tidak membuat kulit lecet dan/atau tulang patah) dan bagian tubuh yang dapat dipukul adalah punggung, pundak, atau bokong. Rasulullah SAW tegas melarang memukul kepala/wajah karena kepala/wajah adalah bagian tubuh yang mulia.

Muslim/muslimah yang baik tentu akan memahami agamanya secara kaffah (tidak setengah-setengah).

Perlukah anak diberi hukuman fisik agar terdidik?

Saya pribadi merasa tidak perlu. Saya percaya manusia bisa dididik tanpa hukuman fisik. Saya percaya manusia bisa terdidik tanpa hukuman fisik.

Kalau anak saya berbuat salah, saya akan lihat dulu kesalahannya apa. Saya akan telaah dulu kenapa anak saya berbuat salah. Bisa saja kan anak saya berbuat salah karena saya, sebagai orang tua, tidak pernah menunjukkan benarnya?

Apapun alasannya, apapun bentuknya, apapun kata orang, saya tidak akan mendidik anak saya dengan hukuman fisik.

Karena saya tidak mendidik anak saya dengan hukuman fisik maka saya tidak bisa terima kalau anak saya dididik dengan hukuman fisik. Kalau anak saya salah, kembalikan anak saya ke saya sebagai ibunya yang sekuat tenaga dan sekuat nyawa mengandung dan melahirkannya dan yang setiap saat mendoakan keselamatan dunia akhiratnya.

Kita semua sadar bahwa semakin ke sini manusia semakin mengerikan. Manusia yang satu tidak segan membunuh manusia yang lain hanya karena alasan sepele. Bahkan hubungan darah tidak bisa lagi menjadi pencegah. Kasus tawuran, kasus kekerasan dalam rumah tangga, kasus kekerasan seksual, dan kasus-kasus kekerasan lainnya seperti tidak tampak ujung sudahnya. 

Kenapa begitu?

Memang penyebabnya multifaktor tapi, menurut saya, salah satunya adalah karena kita sendiri masih menoleransi kekerasan. Salah satunya adalah hukuman fisik itu tadi.

Bukankah kekerasan fisik sekecil apapun bentuknya tetap saja kekerasan fisik? Kalau itu dibiarkan maka bentuk yang kecil itu bisa jadi bibit kekerasan fisik yang lebih besar.

Masih ada dari kita yang berpikir bahwa masalah tidak akan selesai kalau belum adu fisik. Kita masih tidak bisa menyelesaikan masalah dengan komunikasi. Masih ada dari kita yang belum bisa duduk tanpa emosi untuk mencari solusi.

Mau sampai kapan?

Padahal, seharusnya, manusia bisa menyelesaikan masalah tanpa adu fisik.

Ada anggapan bahwa kita bisa bertahan dari hukuman fisik zaman kita sekolah dulu tapi terus apa? Mau melanjutkan 'tradisi' itu ke anak-anak kita sehingga nantinya anak-anak kita akan meneruskan itu ke anak-anaknya dan begitu terus sampai tidak berkesudahan? Toh kita juga tidak bisa memastikan kita - mereka - yang dulu bisa bertahan sekarang menjadi manusia yang tidak melakukan kekerasan dalam bentuk apapun kan?

Anak-anak kita tidak tumbuh dan berkembang di zaman kita. Anak-anak kita tumbuh dan berkembang di zamannya yang sudah pasti jauh berbeda dengan zaman kita.

Bahkan, saya baca, tidak sedikit orang tua yang berkomentar, "Kalau anak saya nakal, terserah mau diapakan."

Menurut saya, itu namanya lepas tangan.

Lalu, solusinya apa?

Untuk para orang tua, marilah kita berbenah diri.

Punya anak itu bukan sekedar 'punya anak'. Bukan sekedar kewajiban meneruskan keturunan setelah menikah. Bukan. Ada tanggung jawab yang lebih besar di balik itu. Tanggung jawab untuk menghasilkan manusia berkualitas yang kualitasnya harus lebih baik dari orang tuanya.

Jangan sampai anak kita menjadi mudarat untuk orang lain karena ketidakmampuan kita mendidik, karena ketidakmampuan kita mengemban amanah.

Untuk para guru,

"Kami titipkan separuh nyawa kami pada kalian" - Ernest Prakasa 

Saya percaya guru-guru Indonesia tidak sedangkal itu pikiran dan perasaannya.

Saya percaya guru-guru Indonesia bisa lebih baik dari itu.

"Saya percaya ada cara mendidik anak tanpa kekerasan. Berat? Pasti.
Itu kenapa guru adalah profesi yang mulia." - Ernest Prakasa
10 comments on "Perlukah Anak Diberi Hukuman Fisik Agar Terdidik?"
  1. Saya dulu ya mbak waktu esde ada teman yang gak ngerjain pr terus gurunya memberikan hukuman misalnya nyubit atau apa, kami rasa itu wajar.

    ReplyDelete
  2. Makasih sharingnya Mba Dini, tantangan besar utk kita mendidik anak di era serba digital sekarang yah..

    ReplyDelete
  3. Hai dini..

    Big NO NO hukuman fisik yang sampai melukai, memar atau membuat trauma sang anak... Bisa di ingatkan dengan cara yang baik, halus atau sedikit meng-gertak.
    Stuju mempunyai anak ga cuma melanjutkan keturunan tapi juga untuk menghasilkan manusia berkualitas.. :)

    onlybona.wordpress.com

    ReplyDelete
  4. Thankd sharingnya dini, berasa banget sih gimana cara didik anak era digital yang sesuai. Dikerasin mereka makin keras, dilembutin makin menjadi, bertindak sebagai teman lama-lama jadi ga ada respectnya. Alhasil parenting style nya diimbangin deh antara permissive, authoritative, authoritarian deh

    ReplyDelete
  5. Lain dulu, lain skrng. Jaman sekolah dulu jg bbrp kali guru kasi hukuman fisik dr dipukul, disuruh lari, mpe dijemur. Klo skrng malah jd nostalgia...
    Kalau anak skrng mungkin beda lg. Mungkin krn pengaruh arus informasi jg dan kemudahan2 juga jdnya, anak jaman skrng lbh milih diajakin bicara ktimbang dipukul, tp apakah bicara saja efektif, saya jg gak tau.Yg pasti saya jg gak setuju dgn kekerasan sampai ninggalin luka gtu...

    ReplyDelete
  6. Dulu aku dan suami sama2 dididik dengan "tangan besi" orang tua kami. Sekarang kami sepakat untuk tidak pernah menerapkannya ke anak2 kami, karena memang lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Lagipula, anak itu amanah dari Allah. Bukankah kita harus menjaga baik-baik amanah yang Allah sudah titipkan pada kita?! Salah satunya dengan mendidik dgn lembut dan tanpa kekerasan. IMHO. Lah ini kenapa jadi serius amat aku komennya, hihihi. Nice thought neng.

    ReplyDelete
  7. hukuman fisik kadang perlu mbak..kalau sudah keterlaluan aku paling banter ya nyubit, atau njewer..itu dengan catetan sudah kebangetan, sudah dibilangi udah enggak mempan.tp aku berusaha untuk menghindari.

    ReplyDelete
  8. Pada dasarnya saya nggak setuju sih kalo ada hukuman fisik yang melukai apalagi sampai meninggalkan bekas. Kapan hari sharing dengan suami, menurut dia harusnya masih banyak jalan memberi hukuman dengan cara yang lebih mendidik.

    ReplyDelete
  9. Kalo menurut saya yang perlu diperhatikan justru lingkungan tempatnya bergaul sih. Itu aja.

    ReplyDelete
  10. Emak gw juga keras kalo mendidik agama, kalo ngak ngaji bakal di sambit ama sapu tapi kalo ngak sekolah mah di cuekin aja paling di omelin hahaha

    ReplyDelete

Auto Post Signature

Auto Post Signature