Top Social

Bagaimana Seharusnya Kita Mendidik Anak?

05 May 2016
bagaimana-seharusnya-kita-mendidik-anak

Kejadian ini terjadi 5 hari sebelum artikel ini di-publish.

Hari itu, pada pukul 03:30 WIB, saya terbangun dari tidur nyenyak saya. Saya merasa perlu menekankan kata 'tidur nyenyak' karena di jam-jam sebelumnya saya susah tidur akibat batuk-batuk yang membuat dada saya sakitnya bukan main. Mungkin ini disebabkan alergi saya kambuh.

Saya terbangun karena suara ribut dari luar rumah. Seketika saya merasakan kepanikan dan kecemasan.

Ada apa ini?!

Saya bergegas turun dari tempat tidur dan ke luar kamar. Saya mendapati lampu ruang makan menyala. Saya tidak menemukan satu pun anggota keluarga saya di dalam rumah. Ya Allah 😓

Saya lihat pintu garasi rumah terbuka. Saya tengok keluar dan saya lihat semua anggota keluarga saya berdiri di teras rumah memandang ke jalan depan rumah - tempat keributan berasal. Pintu pagar masih tergembok rapat. Alhamdulillah. Setidaknya tidak terjadi apa-apa pada keluarga saya.

Dari pintu garasi rumah, saya berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi. Saya lihat ada banyak sekali orang di luar rumah. Tetangga-tetangga satu komplek, satpam komplek, dan sekumpulan anak muda yang tidak saya kenal (bukan warga komplek). Saya perkirakan usia anak-anak muda ini seumuran adik saya (sekitar 24 tahun). Anak-anak muda ini berteriak-teriak gaduh sekali. Salah satunya berteriak, "Sekarang lo berurusan sama polisi!"

Apakah ada maling tertangkap??

Saya tidak bisa memastikan jawabannya karena setengah pandangan saya terhalang mobil dan tanaman rambat pagar. Saya panggil adik saya untuk mencari tahu.

Adik saya cerita bahwa keributan itu bukan karena ada maling tertangkap tapi karena anak tetangga depan rumah kami dan salah satu temannya bertengkar.

HAH?! BERTENGKAR SAMPAI MEMBANGUNKAN ORANG SATU KOMPLEK??

Adik saya tidak tahu pasti awal mula pertengkaran. Diduga pertengkaran diawali oleh candaan. anak tetangga depan rumah kami salah sebut candaan yang membawa-bawa ibu salah satu temannya. Sebagai anak yang tidak terima ibunya dibercandai, temannya menjadi emosi. Bertengkarlah mereka.

Astaghfirullah. Jadi, saya dan orang-orang satu komplek harus terbangun di pukul 03:30 karena pertengkaran anak-anak muda ini?!

Tidak ada yang salah dengan membela ibu. Salahnya adalah membuat keributan sampai mengganggu orang lain. Jujur, saya tidak bisa terima karena mengingat di jam-jam sebelumnya saya susah sekali tidur. Orang tua saya dan tetangga-tetangga yang lain juga pasti butuh istirahat. 

Baca juga : Mau Bayi Tidur Nyenyak Di Malam Hari? Ini Yang Saya Lakukan

Sampai kira-kira 30 menit selanjutnya, pertengkaran itu tidak menemui kesudahan. Anak-anak muda yang lain, beberapa warga, dan satpam komplek pun tidak mampu melerai dan menenangkan. Pertengkaran malah semakin menjadi. Dikhawatirkan terjadi baku hantam, akhirnya, diputuskan untuk mendatangkan polisi. Iya, polisi. Benar-benar polisi datang dengan mobil bersirene. Seingat saya, baru kali ini ada polisi datang lengkap dengan mobil bersirene ke komplek kami tinggal.

Selanjutnya, anak-anak muda yang lain berinisiatif berkeliling untuk menyampaikan permohonan maaf. Termasuk ke rumah kami.

"Maaf ya, Om, Tante, jadi terbangun karena ini,"

"Semua sudah terjadi. Saya dan orang-orang komplek sudah terbangun. Bisa diganti atau diulang tidur kami yang tadi? Kalian seharusnya bisa mikir. Ini komplek perumahan dan, asal kalian tahu, mayoritas warga yang tinggal disini adalah orang-orang yang sudah lanjut usia. Lagian, ngapain kalian jam segini ngga di rumah? Bikin ribut pula. Orang tua kalian ngga nyariin?"

Anak muda tadi diam. Senyumnya hilang.

bagaimana-seharusnya-kita-mendidik-anak

Dari kejadian tersebut, terlihat sikap tidak peduli dari anak-anak muda tersebut. Membuat keributan sampai mengganggu orang lain.

Lagipula, tidak masuk akal saya loh anak-anak muda itu berkumpul sampai hampir subuh. Apalagi beberapa di antaranya perempuan (selihat saya ada 3 orang). Yang terpikir saat saya melihat mereka adalah,

apa orang tua mereka tidak mencari anak-anaknya yang sampai hampir subuh tidak di rumah?

dan kenapa tetangga saya, yang notabene adalah orang tua, membiarkan anaknya dan teman-temannya berkumpul sampai hampir subuh begitu?

Mungkin beberapa orang akan berpikir, "Mereka bukan anak-anak lagi yang harus selalu diawasi orangtuanya. Itu hidup mereka, terserah mau diapakan"

Begitu?

Mau sampai kapan kita apatis seperti itu? Jangan lupa, kita punya tanggung jawab sosial.

Baca juga : Perlukah Anak Diberi Hukum Fisik Agar Terdidik?

Banyak orang bilang bahwa lingkungan sangat berperan dalam membentuk karakter seseorang. Tidak bisa dipungkiri memang ada benarnya. Tapi apa kemudian kita 'menyerah' begitu saja dengan lingkungan? Apa kemudian kita tidak mau dan tidak mampu membekali anak-anak kita dengan bekal yang kuat untuk mereka menghadapi lingkungan?

Saya sampai usia yang hampir 30 tahun ini masih selalu dipantau orangtua saya. Semuanya. Termasuk urusan ibadah. Walau agama yang saya dan keluarga saya anut mengajarkan bahwa anak yang sudah akil baligh sudah menanggung dosanya sendiri tapi, ya, itulah orang tua saya.

Begitu juga dengan adik saya. Adik saya laki-laki. Tahun ini usianya 24 tahun. Tapi, ya, itu tadi, tidak pernah lepas dari pantauan orang tua saya.

Orang tua saya manusia zaman dahulu. Didikannya juga didikan zaman dahulu. Tapi, justru, didikan itu yang menjadi bekal sekaligus benteng terkuat untuk saya dan adik saya menghadapi zaman sekarang yang sangat jauh melampaui zamannya orang tua saya.

Saya tidak mengatakan bahwa orang tua saya sebenar-benarnya mendidik anak. Saya juga tidak mengatakan bahwa saya dan adik saya sudah baik sebagai manusia dan sebagai anak. Tapi, setidaknya, sampai sekarang orang tua saya tidak pernah terima complain dari orang lain tentang kelakuan anak-anaknya. Sampai sekarang juga orang tua saya tidak pernah dipanggil atau didatangi polisi.

Jujur, saya prihatin melihat tingkah laku dan pergaulan anak-anak zaman sekarang (walau tidak semuanya memprihatinkan). Saya prihatin, resah sekaligus takut. Sepertinya, aturan, tata krama, sopan santun dan konsep kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi sekarang sudah tidak ada artinya lagi.

Entah salahnya dimana 😕

Salah didik?

"Barang siapa yang memulai perkara baik (yang disyariatkan) maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya sampai terjadinya hari kiamat. Dan barang siapa yang memulai perkara buruk maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya sampai terjadinya hari kiamat." (HR. Muslim) 

Akan selalu ada pelajaran dari setiap kejadian dan ini salah satunya. Ini adalah pelajaran untuk saya sebagai anak sekaligus calon orang tua.

Boleh bercanda tapi jangan kebablasan. Jangan sampai menyinggung orang lain apalagi bawa-bawa orang tua atau orang yang seharusnya mendapat hormat kita. Bertengkar, ya, silakan bertengkar. Setiap orang punya masalah kok walau masalah tidak harus diselesaikan dengan bertengkar tapi, apapun itu, jangan sampai mengganggu orang lain, apalagi orang lain yang tidak ada hubungannya jadi harus ikut menanggung akibat yang ditimbulkan.

Kalau kamu punya keprihatinan, keresahan dan ketakutan yang sama atau sekedar mau berdiskusi tentang hal ini, silahkan tinggalkan komen ya. Saya akan senang sekali dan menghargai pendapat kamu 😊
16 comments on "Bagaimana Seharusnya Kita Mendidik Anak?"
  1. baca ini jadi ingat anak sendiri dan kasusnya Yuyun

    ReplyDelete
  2. Kalo bangun jam 3.30 jangan lupa sholat malam yaaaa #melipir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyo yo Mas, itu 'alarm' Yang Maha Kuasa mungkin bangunin shalat malam, hehe ;) Makasii Masnyaaa udah diingetin ^^

      Delete
  3. Mba Dini, terima kasih sudah mengingatkan. Alhamdulillah kita selalu terlindungi. Aku juga termasuk protektif kepada anak. Kuatir terjadi sesuatu :(

    ReplyDelete
  4. Wah bener banget nih mba din.. musti dimulai dari rumah...

    ReplyDelete
  5. Duh, miris juga ya mbak -_- itu diperumahan pasti berisiknya kedengaran banget kalau mereka lagi kumpul :'

    Alhamdulillah sih aku jarang ikutan kumpul-kumpul disuatu tempat sampai berlarut bahkan sampai pagi gitu -_- kadang ngerasa nggak guna aja kumpulnya gitu ._.

    ReplyDelete
  6. Kalau dulu ada bujang2 ngumpul malam2 & berisik (apalagi kalau ada yang pacaran), para tetangga negur, orang tuanya malu & negur anaknya juga. Sekarang kalau anaknya ditegur meski salah orang tuanya belum tentu terima, malah marah-marah ke yang negur huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia mbak. Sudah ditegur tetap saja begitu lagi begitu lagi. Teguran seolah angin lalu. Kejadian bertengkar ini juga tetua-tetua komplek sudah turun tangan tapi anak-anak muda ini sama sekali ngga peduli, malah makin jadi bertengkarnya :(

      Delete
  7. Jadi inget jaman dulu, aku bergeng pas smp th baru ngumpul"tapi karena ak kebiasaan didikan orangtua jaman dulu punya syarat tahun baru ga bolwh berisik dan bawa laki"saat kita kumpul, tapi dilanggar temanku yg emang ga didik sama ortu krn ga sama ortu dia semena"bawa laki"dan itu bikin aku ngejauh dan malu, emg didikan ngaruh banget mak

    www.leeviahan.com

    ReplyDelete
  8. Depan saya tuh ada tempat PS mbak. Dulu kalau tengah malem kalo maen smp teriak2 terus warga pada bertindak. Pemiliknya ditegur, akhirnya teriak malam2 tak ada lagi.

    Soal keluyuran smp tengah malam, saya sendiri punya keponakan yg seperti itu mbak. Kalo pagi jam 5 pulang ngorok smp sore. Malem ngelayap lagi entah kemana. Ortu dan keluarga besar kami tak lelahnya ngomelin mulu. Alhamdulillah skrg dia sudah tobat dan mau kerja. Uangnya pun dikirim ke ortu-nya. Saya ikut senang.

    ReplyDelete
  9. Hmmm... Bener. Dan setuju banget, anak itu representasi orangtuanya...

    ReplyDelete
  10. jangan pernah berhenti belajar, harus tetap belajar tiap saat

    ReplyDelete

Auto Post Signature

Auto Post Signature