October 25, 2016

Menjadi Seorang Dokter

menjadi-seorang-dokter

Saya masih ingat ketika pertanyaan itu datang pada saya,

"Kamu mau jadi dokter karena apa?"

"Saya mau jadi dokter karena saya mau membantu banyak orang"

"Mau jadi dokter karena mau membantu banyak orang? Kalau cuma mau membantu banyak orang, ngga usah jadi dokter. Kamu ngga jadi dokter juga bisa bantu orang. Sekarang kamu kasih makan gelandangan atau kamu sumbang uang ke panti asuhan itu sudah bantu orang. Terlalu lama kalau menunggu jadi dokter dulu. Kuliah 4 tahun ditambah koasistensi 2 tahun. Total 6 tahun waktu yang harus kamu habiskan untuk jadi dokter. Iya kalau lancar, kalau ngga? Apalagi kamu perempuan. Kamu menghabiskan banyak sekali waktu kalau alasan kamu mau jadi dokter karena mau bantu orang. Sebaiknya kamu pikir-pikir lagi."

Saat itu saya hanya diam. Beliau ini kenapa? Saya baru mau mulai bukannya disemangati malah semangat saya dipatahkan sepatah-patahnya.

Tapi berhari-hari kemudian setelah saya menjadi mahasiswi kedokteran, saya sadar bahwa pernyataan beliau ada benarnya. Berhari-hari kemudian setelah saya menjadi koasisten, saya sadar bahwa jawaban 'mau membantu banyak orang' tidak lah cukup. Berhari-hari kemudian setelah saya menjadi dokter, saya sadar bahwa butuh alasan kuat untuk memilih jalan hidup menjadi seorang dokter.

*

Kalau orangtua lain berusaha keras supaya anaknya mau jadi dokter, berbeda dengan orangtua saya. Orangtua saya tidak pernah meminta, menyuruh, membujuk apalagi 'mendoktrin' anaknya untuk menjadi seorang dokter karena Alhamdulillah orangtua saya bukan tipikal orangtua yang mengharuskan anaknya menekuni profesi tertentu. Buat mereka yang penting anaknya sekolah. Sekolah setinggi-tingginya.

Ketika saya mengutarakan kemauan saya untuk melanjutkan sekolah ke fakultas kedokteran, nah ini yang saya bilang orangtua saya berbeda, orangtua saya justru 'menakut-nakuti' saya. Kuliah kedokteran itu butuh waktu lama, bukunya tebal-tebal, bayar kuliahnya mahal dan lain sebagainya. Orangtua saya begitu karena mereka sangat paham konsekuensi kuliah di fakultas kedokteran. Lebih dari itu, orangtua saya sangat paham konsekuensi menjadi seorang dokter.

menjadi-seorang-dokter

Untuk menjadi seorang dokter, niatnya harus benar-benar lurus dan mantap memang mau jadi dokter. Niat ini juga harus datang dari kemauan diri sendiri. Ini adalah modal utama sekaligus modal yang tidak bisa ditawar. Modal kuliah kedokteran itu bukannya uang yang banyak ya? Memang, kuliah kedokteran butuh biaya tapi kalau biayanya ada tapi niatnya tidak ada, nah ini yang susah. Sekali lagi saya katakan, niat adalah modal utama. Kalau niatnya sudah benar, Tuhan pasti akan berikan jalan.

Untuk menjadi seorang dokter, tidak bisa hanya karena orangtuanya dokter. Bukan suatu keharusan kalau orangtuanya dokter maka anaknya juga harus jadi dokter. Orangtua saya bukan dokter. Banyak teman saya sesama dokter yang orangtuanya bukan dokter. Begitu juga sebaliknya, banyak teman saya yang bukan dokter tapi orangtuanya dokter.

Untuk menjadi seorang dokter, tidak bisa hanya karena permintaan orangtua. Bahkan banyak yang beralasan, karena orangtuanya tidak kesampaian jadi dokter maka anaknya harus jadi dokter. Mungkin hal ini patut diperhatikan juga untuk para orangtua. Bukan orangtua yang akan menjalani kehidupan sebagai seorang dokter (mulai dari kuliah, kerja dan seterusnya) tapi anak yang akan menjalaninya. Bisa terbayang tidak kehidupan anak akan seperti apa kalau dia tidak senang atau bahkan tidak mau menjalani kehidupan itu? Lagipula, hasilnya akan berbeda jika orang menyenangi apa yang dikerjakannya dibanding dengan orang yang 'pura-pura' senang atau malah terpaksa. Iya, menurut saya, kita harus senang dulu dengan apa yang kita kerjakan karena kalau sudah senang, apapun yang terjadi pasti akan dihadapi.

Untuk menjadi seorang dokter, tidak bisa hanya karena profesi ini dipandang sebagai profesi yang keren. Tidak harus jadi dokter kok untuk bisa keren. Joe Taslim bukan dokter tapi banyak orang bilang dia keren karena bisa berakting di film Fast and Furious. Apapun profesinya, selama kita menyenangi dan selalu berusaha maksimal menjalaninya maka orang akan memandang itu sebagai sesuatu yang keren. Kalau kamu melihat dokter itu keren berarti kamu sedang melihat seseorang yang menyenangi profesinya sehingga dia memaksimalkan kemampuannya dan memampukan dirinya untuk menghadapi proses. Hasilnya? Profesinya terlihat keren.

Untuk menjadi seorang dokter, tidak bisa hanya karena profesi ini dipandang bisa mendatangkan kekayaan. Kamu tahu siapa orang terkaya di dunia? Bill Gates. Beliau dinobatkan sebagai orang terkaya di planet ini. Saya ulangi ya, di PLANET ini! Terhitung total kekayaannya mencapai US$79,2 miliar! Pertanyaannya, apakah Bill Gates seorang dokter?

Untuk menjadi seorang dokter, tidak bisa hanya karena profesi ini dipandang bisa menjamin kehidupan. Menurut saya, hanya kepercayaan terhadap kebaikan Tuhan dan kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri yang bisa menjamin kehidupan.

menjadi-seorang-dokter

Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi seorang dokter, itu sama saja dengan memutuskan untuk berkomitmen dengan profesinya SEUMUR HIDUP. Iya, seumur hidup. Profesi dokter adalah profesi seumur hidup. Profesi yang tidak mengenal pensiun. Profesi yang tidak mengenal waktu dan tempat karena profesi ini berhubungan dengan manusia. Apalagi seorang dokter sebelum menjalankan profesinya terlebih dulu disumpah atas nama Tuhannya. Kamu bisa search di mesin pencarian dengan keyword 'Sumpah Dokter Indonesia' untuk mengetahui isi sumpahnya.

Belum lagi kalau kita bicara soal dokter-dokter yang bekerja di unit gawat darurat atau dokter-dokter yang memilih spesialisasi yang ada nilai gawat daruratnya seperti dokter spesialis bedah, dokter spesialis anestesi, dokter spesialis obstetri dan ginekologi atau dokter spesialis anak. Mau sedang santai di rumah, sedang liburan, sedang tidur, lapar, atau galau sekalipun kalau sudah di-calling ya berangkat (atau minimal diinterupsi melalui telepon). Memangnya nyawa bisa nunggu?

Oleh sebab itu, orangtua saya mau melihat seberapa mantap kemauan saya untuk kuliah di fakultas kedokteran dan seberapa mantap kemauan saya untuk menjadi seorang dokter dengan cara 'menakut-nakuti' itu tadi. Ketika orangtua saya bisa melihat kemantapan itu di diri saya, orangtua saya pun akhirnya mantap juga. Orangtua saya senangnya bukan main. Mereka bilang, "Alhamdulillah. Jadi semisal nanti Mama atau Papa sakit, ada yang mengobati ya."

Tapi kenyataannya, setelah saya menjadi seorang dokter, saya hampir tidak pernah benar-benar bisa mengobati kedua orangtua saya ketika mereka sakit. Saya malah lebih sering mengobati orang lain. Saya malah mementingkan orang lain.

Suatu ketika penyakit vertigo Ayah saya kambuh sampai beliau jatuh dan kepalanya terbentur. Saat itu saya sedang jaga. Ketika Ibu saya telepon, rasanya saat itu juga saya mau pulang. Tapi, di saat bersamaan ada tanggung jawab yang tidak bisa saya tinggal begitu saja. Ada sumpah terucap yang tidak bisa saya langgar begitu saja. Akhirnya saya hanya bisa menginstruksikan kepada Ibu melalui telepon apa-apa saja yang harus dilakukan untuk menolong Ayah sambil menahan tangis di kamar jaga. Saya memang cengeng kalau sudah menyangkut orangtua, hehe.

Pernah juga, saat Ibu saya mau kontrol ke dokter yang jadwal praktiknya malam hari. Lagi-lagi karena saya sedang jaga maka saya tidak bisa mengantar dan menemani beliau. Kepikiran bukan main karena malam hari. Nanti dijalan bagaimana, kalau ada apa-apa siapa yang akan menolong, dan lain sebagainya.

Pernah satu waktu saya minta maaf kepada orangtua saya karena saya tidak bisa selalu ada di saat mereka sakit. Mereka bilang begini,

"Saat Dini memutuskan untuk jadi dokter, Mama dan Papa sudah menyadari bahwa Dini akan menjadi milik masyarakat. Mama dan Papa sudah siap, Nak. Mama dan Papa justru bangga dan bahagia karena Mama dan Papa punya anak yang bermanfaat untuk banyak orang karena itu doa dan harapan Mama dan Papa."

Iya, menjadi seorang dokter berarti harus punya kesadaran dan harus punya kesiapan untuk merelakan sebagian atau bahkan lebih dari sebagian dirinya untuk 'dimiliki' masyarakat. Kesadaran dan kesiapan ini juga harus dipunyai oleh orang-orang di sekitar dokter tersebut. Orangtuanya, suami/istrinya atau anaknya. Kesadaran dan kesiapan ini yang seringkali dilupakan orang.

Tidak sedikit hal yang harus ditinggalkan dan dikorbankan demi menempatkan pasien sebagai prioritas nomor satu, lebih penting dari apapun bahkan dari diri dokter itu sendiri karena ada harapan dan tuntutan yang sangat besar yang ditujukan kepada seseorang dengan 'label' dokter. Saking besarnya sampai seringkali melewati batas. Contohnya kejadian yang pernah saya alami ini,

Hari itu saya jaga di bagian layanan 24 jam. Saat waktu Zuhur tiba, mumpung sedang tidak ada pasien, saya bergegas ke kamar mandi di ruang jaga untuk wudhu. Ketika saya keluar kamar mandi, ada seorang perempuan usia 20-an tahun masuk ke ruangan.

D : "Ada apa ya, Mbak?"
P  : "Saya mau berobat. Dokternya ada kan?"
D : "Ada, Mbak. Saya dokternya. Sakit apa, Mbak?"
P : "Batuk pilek, dok"
D : "Ooh... Mbaknya tunggu sebentar ya, saya shalat Zuhur dulu"
P : "Ngga bisa langsung periksa ya, dok?"
D : "Saya shalat Zuhur dulu ya, Mbak. Soalnya saya sudah wudhu"

Perempuan tersebut langsung pasang wajah cemberut dan berdecak, "Ck!" kemudian dia keluar dengan membanting pintu.

Astaghfirullah... 

Saya kan tidak kemana-mana ya, mau shalat saja kok... Berapa lama sih waktu yang diperlukan untuk shalat? Persoalannya kan saya sudah wudhu. Kalau saya belum wudhu, saya pasti akan layani. Apakah dengan menunggu saya shalat akan membuat parah batuk pileknya? Lagipula, hak saya untuk beribadah. Salah kalau saya mendahulukan Tuhan?

"Even heroes have the right to bleed."
(Five For Fighting)

Sering saya ditanya, apa susahnya dengan menjadi seorang dokter?

Saya selalu jawab,

Kalau dari segi keilmuan, tidak ada yang susah selama mau belajar dan berlatih. Tapi dari segi pribadi seorang dokter itu yang susah karena adanya harapan dan tuntutan yang sangat besar itu tadi. Seorang dokter diharapkan dan dituntut untuk menjadi sempurna. Saking sempurnanya sampai banyak orang kemudian tidak mau tahu ketika dokternya butuh ibadah, butuh istirahat, butuh makan minum, butuh hiburan, butuh berkumpul bersama keluarga...

Bahkan tidak sedikit orang yang kemudian punya pola pikir, 'Kalau berobat ke dokter harus sembuh. Kalau tidak sembuh, tuntut dokternya'. Orang-orang seperti ini yang suka membuat saya sedih. Sedih karena kok sepertinya Tuhan dilupakan padahal andil Tuhan dalam kesembuhan hambaNya itu sangat besar karena itu memang hak Dia. Dia yang Maha Menyembuhkan. Dokter hanya bisa membantu pasiennya menuju jalan kesembuhan itu. Selebihnya ya tergantung usaha dari yang punya badan dan takdir Tuhan.

Tapi, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, kalau sudah senang dengan apa yang dikerjakan maka apapun yang terjadi pasti akan dihadapi. Ini pilihan saya sendiri dan saya tidak pernah menyesal dengan pilihan ini karena pilihan ini adalah passion saya.

*

Namanya hidup, rintangan pasti akan selalu membentang dan masalah pasti akan selalu datang. Tergantung kitanya. Pandai-pandai saja untuk memilah dan memilih. Hal-hal mana yang benar-benar perlu dipikir sejauh mungkin dan dirasa sedalam mungkin, mana hal-hal yang cukup tahu saja dan mana hal-hal yang patut di-skip.

Manusiawi kalau kemudian datang lelah, sedih, putus asa, marah atau kecewa asalkan jangan terus menerus. Manusiawi kalau kemudian mengeluh, asalkan jangan selalu.

"Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia,
maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia."
(QS. Al-Ma'idah : 32)

Hanya dengan mengingat bahwa profesi ini adalah ladang pahala yang terbentang sangat luas maka kekuatan itu akan datang dengan sendirinya.

Semoga blogpost ini bisa membuka pandangan baru dan lebih luas lagi tentang profesi dokter ya ;)

44 comments:

  1. Mbak Dini, Selamat ya sudah menjadi dokter yang kalau saya baca pernyataan-pernyataan diatas Mbak adalah dokter yang baik. Anak saya juga baru dilantik sebagai dokter muda. Dan kami tidak pernah memintanya untuk jadi dokter, Itu benar-benar pilihannya sejak kecil. Kita saling mendoakan ya mbak agar para dokter menemukan idealisme Mengapa mereka memilih profesi tersebut. Sebab dengan cara itulah pasien akan banyak sekali terbantu. Amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat ya Mbak untuk anaknya dan selamat bertugas ;)

      Delete
  2. Semoga semua dokter bisa berpikiran dan berkomitmen seperti dr. Dini...

    Saya miris lihat dan menyaksikan dokter dan kesehatan di Cianjur Selatan. Selain puskesmas, di kami tidak ada RS. Dokter jarang. Makanya warga banyak berobat ke orang pintar...
    Daripada ke RSUD di kota dengan kendaraan 4jam lebih,
    Kini sudah ada RS pembantu di Kecamatan Pagelaran, 2jam kendaraan dari pelosok terjauh perbatasan Cianjur. Tapi dari segi pelayanan masih kurang. Tetap dokternya jarang ada karena setiap ditanya pasien dokternya ada, kata perawat masih di kota. Hikz!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga pemerintah juga bisa punya kebijakan yg pro rakyat untuk pengadaan dan pemerataan fasilitas kesehatan yg mumpuni ya Mbak. Kalau dokternya ada tapi fasilitas kesehatannya ngga mumpuni kan susah juga dokternya mau menjalankan tugasnya dengan baik :)

      Delete
  3. Salam kenal ya mbak..
    Selamat sudah jadi dokter ya.
    Semoga istiqomah. Salut untukmu mbak :)

    ReplyDelete
  4. Aq kok mewek ya...salut banget sama profesindokter dan profesi lainnya...
    Semangat mba dini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa ngga maksud bikin mewek Mbak, heu ^^

      Delete
  5. Tanggung jawab dokter itu berat sekali ya. Jarang nemu dokter yang mau melayani di luar jam praktek sekarang ini. Tapi ya maklum, dokter juga butuh istirahat juga ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak kok Mbak dokter yg melayani di luar jam praktik. Itu dokter-dokter yg jaga di Gawat Darurat, dokter-dokter di klinik 24 jam, atau dokter-dokter spesialis yg spesialisasinya ada nilai gawat daruratnya kalau di-calling juga pasti datang, hehe ^^

      Delete
  6. Ahh ada Dokter Dini Cantik tentunya dambaan pasien.

    Hiks, terharu baca ungkapan Mama Papa nya untuk anak yang memilih profesi sebagai dokter ini.

    Menyadari baik itu dokter atau pekerjaan lain sudah ada konsekwensinya ya .

    Semangat Dokter Dini,
    *aku minta obat sakiit hati niy dok :v

    ReplyDelete
  7. O ia beberapa hari lalu hari dokter nasional ya? Selamat hari dokter mba Dini :) terima kasih sudah berbagi pengalamannya :)

    ReplyDelete
  8. Aku terharu mbak dini .. apalagi di bagian percakapan dengan orang tua.

    Sungguh menjadi dokter bukan perkara mudah, bukan perkara asal terlihat keren, bukan perkara asal orang tua bangga. Tapi juga perkara harus rela menjadi milik masyarakat.
    Dan iya.. memang orang orang beranggapan dokter adalah segalanya, kalau ga sembuh berarti salah dokternya.

    Semangat terus mbak dinii...
    Semoga menjadi dokter yang amanah dan bermanfaat bagi semuanya ^^

    ReplyDelete
  9. Wah keren sekali refleksinya Mbak Dinii..
    Sukses terus untuk ke depannya yah Mbakk...

    ReplyDelete
  10. Apa pun kondisinya saya tetap mengagumi seorang dokter, apalagi klw udah pakai jas putihnya atau pakaian operasi macam dr.OZ, ahh keren lahh..

    selamat berjuang ya mbak dr.Dini :-)

    ReplyDelete
  11. salut mbak Dini...untuk menjadi dokter nggak mesti orang tuanya dokter yang penting niat lurus dan mantap, salam kenal mbak

    ReplyDelete
  12. Ternyata jadi dokter bahkan jadi bagian dari keluarga dokter memang harus ekstrasabar ya. Kebayang kalo aku beneran punya suami dokter pasti harus ekstrasabar kalo sewaktu-waktu suami dicalling ada pasien.

    ReplyDelete
  13. Aku termasuk yang cupu karena ngga berani jadi dokter. Karena menurut saya ya kyk yang dini cerita, tanggung jawabnya besar banget. Dan aku salut sama yang berani untuk bertanggung jawab dgn ikhlas, apalagi dilakukan dgn sukacita krn memang profesi ini adalah passionnya. Coba dini praktek di mana biar aku singgahi,hahaha.

    ReplyDelete
  14. Seorang dokter diharapkan dan dituntut untuk menjadi sempurna. Saking sempurnanya sampai banyak orang kemudian tidak mau tahu ketika dokternya butuh ibadah, butuh istirahat, butuh makan minum, butuh hiburan, butuh berkumpul bersama keluarga <<< Ini jleb banget, Mba Din.

    Iya banget, kadang pasien hilang kesabaran saat antri hanya untuk memberi kesempatan dokternya untuk ibadah maupun makan. Padahal kan dokter itu bukan robot. Semoga Mba Dini dan para dokter diberikan pahala yang berlimpah atas pengabdian dan kesabarannya ya :)

    ReplyDelete
  15. Aku selalu salut deh sama orang2 yang memilih mwnjadi dokter. Karenaaaa... dedikasinya itu lho. Dan jd dokter itu kan hrs berkorban waktu brg keluarga jg ya. Selamat ya Dini atas gelarnya. Semoga berkah..

    ReplyDelete
  16. Membantu orang lain melalui jalan medis dengan memberikan pelayanan yang maksimal bagi pasien. Semoga tetap ikhlas dan terus ikhlas dalam menolong pasien Bu dokter.

    ReplyDelete
  17. aku sedih pas baca yg bagian ttg orangtua Dini.. iya juga ya kepikiran banget klo misalnya pas orang terdekat kita sakit, malah kita sedang membantu masyarakat.. InsyaAllah ini jalan ibadah kamu Dini, profesi yang sangat mulia.. salut :)

    ReplyDelete
  18. Mungkin pasiennya belum paham kali ya kalau beribadah itu perlu diutamakan. Kecuali sakitnya dia parah baru deh harus segera ditolong.

    ReplyDelete
  19. `bEKERJA dengan motivasi ingin mmebantu banyak orang itu pahalanya memang luar biasa dan tantangannya juga ga kalah menguji ya mba :)

    ReplyDelete
  20. dokter dini salam kenal ya. Tulisannya komprehensif banget ini, berguna banget buat orang-orang yang berniat jadi dokter. Kalo menurutku pribadi, syarat paling utama jadi dokter adalah......punya mental super kuat liat darah dan ngebelek badan orang. Duh kalo aku mah, gak akan pernah jadi dokter...apalagi kalo udah soal ngebelek, baru denger kata-kata operasi aja udah gemeter apalagi misalnya aku jadi dokter dan suruh ngelakonin iris2 tubuh orang. Ampun dijeeee....maaf jadi curcol ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, iya Mbak, itu juga salah satunya. Jangan malah dokternya jadi pasien ya. Nambahin itu namanya, hihihi :p

      Delete
  21. Salut sama dini! Pada dasarnya segala keputusan yg diambil ada plus minusnya. Orangtua dini luarbiasa banget dukung dini untuk jd dokter dan terima konsekuensinya dini jd milik masyarakat. Prakteknya dimana din? Aku mau berobat sama dokter dini aahhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Calling aja nanti aku datang, ahaayy :p

      Delete
  22. Iya bener sekali, jadi istri dari seorang dokter pun kudu rela ditinggal kapanpun ada panggilan darurat hihihi, seminggu bisa cuman sehari dua hari aja ketemunya :D
    Semoga dokter-dokter selalu diberi kesehatan wal-afiat, aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak. Ini yg perempuan-perempuan seringkali ngga sadar. Maunya punya suami dokter karena keren lah, bisa diobati sendiri lah tapi lebih dari itu jadi istri dokter harus siap dan ngga bisa egois semisal suaminya harus berbagi waktu atau bahkan lebih milih pasiennya :)

      Delete
  23. Wah bu dokter di tengah kesibukannya masih sempat nge-blog ya, mba. Seneng baca2 sharing teman2 ttg sisi lain profesinya. Jadi nambah wawasan juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Supaya seimbang Mbak. Selain itu juga supaya ilmu yg saya punya bisa menjangkau lebih banyak orang. Kan kalau banyak orang merasa terbantu dengan baca blog saya, sayanya juga yg senang karena bisa jadi manfaat :)

      Delete
  24. Hi Mba Dini salam kenal, semoga sehat dan berkah selalu dalam menjalani profesinya. Aku haru membaca kalimat dari mamah-papahnya mba. Semoga amanah y mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin yaa rabbal alamiin. Salam kenal juga Mbak :)

      Delete
  25. Aku punya beberapa temen dokter dan ujung2 nya malah dagang, jualan baju sama jualan kantin
    Kita suka bilang, kuliah lama2 mahal eh ujung2 nya cuman gini doang hahahaha. Dia bilang mungkin terlalu lelah kami kuliah

    ReplyDelete
  26. Sesuai yg ditulis dini, saat ini aq pun mungkin jg keluarga sudah mulai belajar utk memahami seluk beluk kedokteran, mulai dari kesibukannya dll. Krna adek baru masuk kuliah kedokteran atas keinginannya sendiri. Awal2 gemes euy, tiap di wa/sms/telp lamaaaa bgt blsnya pdhl kami kawatir. Dia ngekos sendirian. Tapi makin kesini yaa makin bs ngerti sih... kadang2 malah no news is a good news meski ttp harus rajin komunikasi.

    Baru kuliah aja sdh sibuk gtu ya, apalgi ntr klo sudah kerja. Hihi.

    ReplyDelete
  27. Saya dulu sejak SD cita-citanya dokter Mba', tapi setelah SMA tidak dilanjutkan karena terbatas biaya. Terus semangat Mba', semoga semakin banyak dokter yang bekerja dengan hati... :)

    ReplyDelete
  28. Wah, saya baru tahu kalau mbak Dini dokter :) semangat ya mbak, terima kasih sudah berjasa dengan memberikan waktu, tenaga dan bantuannya untuk banyak orang.

    ReplyDelete
  29. Salam kenaal mbaak dinii. .
    Saya sangat menikmati setiap kalimat dari cerita ini. Semangaat mbaaak.. Semogaa selalu sehat dan bahagia untuk berbagi kebaikan dengan yg lain. Saluut sama dr.Dini 😁 Salam kenaal. .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mbak, salam kenal juga. Aamiin ya rabbal alamiin. Terima kasih sudah mampir dan baca tulisan saya :)

      Delete
  30. Salam kenal mba Dini ^^
    Setuju sekali mba kadang orang lupa kalo bukan dokter yang memberikan kesembuhan tapi Tuhan. dan aku paling heran kalo di dokter ga sembuh pasti nuntut sana-sini, tapi kalo di dukun / alternatif ga sembuh mereka memaklumi saja. (emosi)

    Semoga selalu menjadi dokter yang Amanah ya dok seperti kata orang tua dr. Dini :)

    ReplyDelete