Top Social

Perlengkapan Bayi Yang Harus Dibawa Saat Kontrol Ke Dokter

27 September 2016
perlengkapan-bayi-yang-harus-dibawa-saat-kontrol-ke-dokter

[Artikel ini disponsori oleh Goo.N]

Pergi kontrol ke dokter pasca melahirkan menjadi pengalaman baru sekaligus pengalaman menarik untuk saya. Sebabnya, jadwal kontrol saya berada di hari yang sama dengan jadwal kontrol anak saya yang artinya ini pertama kalinya saya pergi dengan membawa bayi!

Deg-degan?

Pasti. Namanya juga baru pertama kali.

Sebenarnya deg-degannya karena saya khawatir anak saya akan rewel selama di perjalanan dan selama berada di rumah sakit. Apalagi jadwal praktik dokter SpOG saya dan jadwal praktik dokter SpA anak saya berjarak waktu 3 jam. Oleh karena itu, yang sangat saya pikirkan adalah bagaimana membuat anak saya nyaman selama di perjalanan dan selama berada di rumah sakit supaya tidak rewel. Salah satunya adalah dengan membawa perlengkapannya.

Perlengkapan Yang Harus Dibawa Saat Akan Melahirkan

15 September 2016
perlengkapan-yang-harus-dibawa-saat-akan-melahirkan

I'm back!

Senaaanngg bangeeett bisa blogging lagi setelah lebih dari satu bulan saya ngga blogging karena melahirkan, beradaptasi dengan kondisi pasca melahirkan, dan mengurus newborn baby.

Baca juga : Alhamdulillah Saya Hamil

Selama lebih dari satu bulan ini, ada beberapa pengalaman pasca melahirkan yang mau saya bagi. Saya mulai dengan yang ringan dulu ya yaitu pengalaman menyiapkan barang-barang yang harus dibawa saat akan melahirkan. FYI, saya melahirkan di RSIA Bunda ya.

Sejak kehamilan saya berusia 7 bulan, saya sudah mulai browsing di internet dan Youtube untuk mencari tahu barang-barang apa saja yang harus dibawa saat akan melahirkan dari pengalaman ibu-ibu lain yang sudah lebih dulu melahirkan. Dari hasil browsing itu, saya bikin catatan di buku catatan saya *iya, saya masih suka mencatat menggunakan buku, hehehe* Kemudian, saat kehamilan saya berusia 8 bulan, saya tanya-tanya ke RSIA Bunda dengan berbekal catatan itu sekalian booking kamar. Saya cocokkan catatan saya dengan barang-barang yang sudah tersedia di sana, apa saja yang perlu ditambahkan dan apa saja yang perlu dicoret.

Tips dari saya, saat bertanya ke rumah sakit, jangan bertanya ke bagian pendaftaran saja tapi tanya juga ke perawat di bangsal perawatan karena, biasanya, bagian pendaftaran hanya akan memberikan daftar barang-barang standar sedangkan perawat di bangsal perawatan lebih tahu secara detail barang-barang apa saja yang perlu dibawa dan tidak perlu dibawa.

Tujuan saya menyiapkan barang-barang yang harus dibawa saat akan melahirkan dari jauh-jauh hari adalah supaya saya ngga grasa grusu saat waktu melahirkan tiba. Selain itu, untuk meminimalisir kemungkinan ada barang yang tertinggal (terutama dokumen-dokumen untuk keperluan administrasi) juga.

Awalnya, saya menyiapkan barang-barang ini untuk keperluan melahirkan per vaginam sebelum akhirnya diputuskan saya harus melahirkan dengan sectio caesarea. Tapi, menurut saya, barang-barang yang harus dibawa saat akan melahirkan per vaginam maupun dengan sectio caesarea ngga jauh beda karena, ketika akhirnya diputuskan saya harus melahirkan dengan sectio caesarea, barang-barang itu juga yang dibawa. Saya hanya menambah jumlahnya karena estimasi masa perawatan pasca melahirkan dengan sectio caesarea di rumah sakit lebih lama.

Baca juga : Tentang Operasi Caesar

Saya membagi barang-barang yang harus dibawa menjadi empat peruntukan yaitu barang-barang untuk ibu, untuk bayi, untuk ayah (sebagai orang yang akan menemani selama masa perawatan) dan untuk keperluan administrasi. Semua barang disiapkan untuk masa perawatan selama 4-5 hari (kalau ngga ada komplikasi) sesuai estimasi RSIA Bunda dalam merawat ibu yang melahirkan dengan sectio caesarea.

UNTUK IBU

Baju kancing depan


Saya bawa lima baju (termasuk baju yang digunakan saat pulang). Baju yang saya bawa modelnya maxi tunic dan berbahan katun.

Saya baru mulai pakai baju milik sendiri di hari kedua pasca operasi karena di hari operasi dan satu hari setelahnya saya memakai kimono yang disediakan rumah sakit karena, dengan kimono itu, perawat-perawat jadi lebih mudah membantu membersihkan badan saya (selama dua hari itu saya belum mampu bersih-bersih sendiri di kamar mandi dan juga saya masih menggunakan kateter).

Sarung

Saya bawa dua sarung.

Awalnya, saya menyiapkan sarung untuk digunakan sebagai penutup ketika saya sedang berproses melahirkan per vaginam tapi berhubung akhirnya diputuskan saya harus melahirkan dengan sectio caesarea jadi sarung tersebut saya alih fungsikan sebagai bawahan selama saya masih menggunakan kateter.

Celana untuk ibu hamil

Saya bawa dua celana (termasuk celana yang digunakan saat pulang). Celana untuk ibu hamil yang saya punya masih bisa digunakan pasca melahirkan (bahkan sampai sekarang juga masih saya pakai sebagai celana untuk di rumah) karena bagian pinggangnya terbuat dari karet yang berlubang-lubang. Lubang-lubang di karet ini yang nanti tinggal dikaitkan ke kancing yang ada di bagian dalam pinggang celana sesuai seberapa kencang saya mau. Ini juga sangat membantu saya yang melahirkan dengan sectio caesarea karena di bagian perut yang ada bekas sayatan operasi jadi ngga terasa sakit.

Jilbab bergo

Saya bawa dua jilbab Saya memilih untuk menggunakan jilbab bergo selama masa perawatan karena lebih praktis.

Celana dalam untuk ibu hamil

Saya menggunakan celana dalam merk Sorex bahannya lembut, adem, dan ngga kaku (mudah meregang). Selain itu, karena bagian depan celana dalam hamilnya dirancang untuk menopang perut hamil jadi, ketika digunakan pasca melahirkan dengan sectio caesarea, di bagian perut yang ada bekas sayatan operasi ngga terasa sakit.

Bra untuk ibu menyusui

Saya menggunakan bra dari merk Sorex juga. Saya pilih yang model kait atas tanpa busa dan tanpa kawat supaya nyaman.

Handuk

Walau RSIA Bunda sudah menyediakan handuk, saya tetap bawa handuk sendiri karena saya merasa lebih nyaman menggunakan handuk sendiri.

Waslap

Sama dengan handuk, waslap juga sudah disediakan tapi saya tetap bawa waslap sendiri. Saya bawa dua waslap. Waslap ini yang digunakan perawat-perawat untuk membersihkan badan saya saat saya belum bisa bersih-bersih sendiri di kamar mandi.

Toiletries

Sama dengan handuk dan waslap, toiletries standar (sampo, sabun cair, sikat gigi, dan pasta gigi) juga sudah disediakan tapi, lagi-lagi, saya merasa lebih nyaman menggunakan toiletries sendiri. Saya bawa sampo, pembersih wajah, sikat gigi, pasta gigi, sabun cair dan deodoran. Semuanya travel size.

Perlu bawa alat cukur ngga, Din?

Tergantung dari rumah sakitnya. Berhubung cukuran sudah menjadi salah satu prosedur di RSIA Bunda sebelum ibu melahirkan jadi saya ngga bawa alat cukur.

Konjac sponge

Untuk membersihkan wajah saat saya belum bisa ke kamar mandi. Saya memilih untuk menggunakan konjac sponge karena lebih praktis dan lebih bisa menyerap minyak di wajah saya. Selain itu, ngga usah pakai pembersih wajah juga wajah saya bisa bersih dengan konjac sponge ini.

Saya menggunakan konjac sponge dari My Konjac Sponge yang varian Natural Bamboo Charcoal.

Pelembab

Berada di ruangan ber-AC selama berhari-hari akan membuat kulit mudah kering. Oleh karena itu, untuk menjaga kelembaban kulit, saya bawa pelembab untuk bibir, wajah, dan badan.

Saya menggunakan Color Repvblic Skinny Tinted Balm untuk bibir, Bioderma Sebium Global untuk wajah, dan Bio-Oil untuk badan. Selain itu, saya juga membawa Avene Thermal Spring Water Spray yang ukuran 50 ml.

Nipple salve

Sejak saya hamil, saya sudah rajin menggunakan nipple salve dengan tujuan supaya puting saya ngga mudah lecet dan untuk mengurangi rasa sakit saat menyusui. Saya menggunakan Buds Nursing Salve.

Makeup

Saya bawa loose powder, blush on, eyebrow powder dan lipstick.

Awalnya, saya pikir, saya akan menggunakan makeup selama masa perawatan pasca operasi supaya wajah saya ngga kelihatan pucat, apalagi saat ada tamu yang datang berkunjung, tapi, kenyataannya, selama masa perawatan bahkan saat pulang, saya sama sekali ngga menggunakan makeup!

Pembalut bersalin

Selama masa perawatan di rumah sakit, saya menggunakan pembalut bersalin merk Dacco ukuran Slim Large. Saya sedia lima bungkus (satu bungkus berisi empat pembalut).

Setelah pulang ke rumah, saya menggunakan Charm Body Fit Night Wing 35 cm, Charm Body Fit Extra Maxi Non Wing 23 cm dan Kotex Fresh Liners Longer & Wider selama masa nifas.

Gurita bertali

Ketika akhirnya saya harus melahirkan dengan sectio caesarea, saya merasa bersyukur karena sedari awal menyiapkan gurita bertali dan bukan korset. Dengan menggunakan gurita bertali, saya jadi bisa mengatur kekencangan talinya saat dipakai, terutama untuk bagian perut yang ada bekas sayatan operasi. Saya bawa dua.

Penggunaan gurita pasca melahirkan dengan sectio caesarea dianjurkan sesegera mungkin (tentunya setelah dibolehkan dokter ya) karena penggunaan gurita dapat membantu menopang tubuh ibu dan membantu mengurangi rasa sakit saat berjalan  dan saat menyusui selain untuk membantu mengecilkan perut ibu.

Breast pad

Saat payudara sedang penuh terisi air susu, seringkali air susu akan mengalir keluar. Begitu juga ketika sedang menyusui pada satu payudara, seringkali air susu di payudara satunya akan ikut mengalir keluar. Breast pad ini berguna untuk mencegah air susu yang mengalir keluar tadi membasahi bra dan baju. Saya membawa disposable breast pad merk Pigeon sebanyak 5 pasang.

Tisu kering

Sudah menjadi kebiasaan saya untuk membawa tisu kering saat bepergian. Tisu kering ini bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Saya bawa Tessa Travel Tissue.

Tas kain ukuran sedang

Untuk menaruh baju kotor.

Smartphone, charger dan dompet

Sudah otomatis pasti dibawa kan, hehehe ;p

Koper ukuran sedang

Untuk mengemas semua barang-barang.

UNTUK BAYI

RSIA Bunda sudah menyediakan semua kebutuhan bayi baru lahir selama masa perawatan pasca dilahirkan jadi saya ngga perlu bawa banyak barang.

Baju pulang

Saya bawa satu baju model terusan dengan ukuran newborn.

Kain bedong

Sebenarnya, bayi baru lahir ngga harus dipakaikan bedong. Tapi, saya tetap bawa dan tetap saya pakaikan sekedar untuk menyelimuti. Walau bagaimana, selama masa perawatan kan anak saya akan selalu berada di ruangan ber-AC. Selain itu juga untuk memudahkan saya saat menyusui dan menggendong saat pulang.

Saya menggunakan kain bedong merk Aden+Anais karena kain bedong ini bahannya lembut, tidak kaku, cukup lebar dan multifungsi.

Topi, sarung tangan, dan kaus kaki

Sama seperti kain bedong, bayi baru lahir juga ngga harus dipakaikan topi, sarung tangan, dan kaus kaki. Tapi, saya tetap bawa dan tetap saya pakaikan (terutama di malam hari) karena kan RSIA Bunda menggunakan perawatan secara rooming in jadi anak saya akan berada di kamar ber-AC terus. Selain itu, khusus untuk sarung tangan, alasannya lebih untuk mencegah supaya kulitnya ngga kecakar kukunya sendiri.

Newborn pillow

Untuk menopang kepala bayi saat menyusu.

Giwang

Setelah dua dokter Sp.OG memprediksi anak saya berjenis kelamin perempuan, saya dan suami berdiskusi soal tindik telinga. Mau langsung ditindik atau ditunda. Saya dan suami memutuskan untuk langsung menindik telinga anak kami jadi giwang adalah salah satu barang yang disiapkan.

Giwang yang dianjurkan untuk digunakan bayi baru lahir adalah yang model lingkaran dan ukuran emasnya setengah gram.

Bandana

Naaahh... Ini sih kerjaan ibunya aja udah setelah tahu anaknya berjenis kelamin perempuan... Hasrat ngedandaninnya langsung muncul ;p

Kendil

Untuk menampung plasenta (ari-ari).

Tas ukuran kecil


Untuk mengemas semua barang-barang bayi.

UNTUK AYAH

Baju ganti

Sebanyak estimasi masa perawatan.

Handuk dan 
toiletries

Untuk keperluan mandi.

Tas kain ukuran sedang

Untuk menaruh baju kotor.

Selimut kecil

Untuk menghangatkan badan saat malam hari.

Sarung & sajadah

Untuk suami saya gunakan saat beribadah, terutama karena masa perawatan saya melewati hari Jumat.

Sandal

Untuk suami saya gunakan saat keluar kamar untuk membeli makanan atau ke musholla. Oh ya, saya sendiri ngga bawa sandal lagi ya karena sudah disediakan oleh rumah sakit. Saya hanya bawa sepatu sandal yang saya pakai saat menuju rumah sakit.

Smartphone, charger dan dompet

Sudah otomatis pasti dibawa.

Laptop dan charger

Sebagai area manager, walau suami saya dapat cuti tapi suami saya tetap harus memantau cabang-cabang perusahaan tempat dia bekerja. Oleh karena itu, suami saya bawa laptop yang biasa digunakannya untuk bekerja. Selain itu, laptop juga jadi salah satu sarana hiburan untuk suami saya selama menemani saya.

Stop kontak

Karena gadget yang dibawa cukup banyak.

Cemilan

Untuk iseng-iseng ngunyah selama menemani saya.

Ransel ukuran sedang

Setelah melihat barang-barang yang harus dibawanya ngga terlalu banyak, suami saya merasa lebih praktis kalau menggunakan ranselnya saja.

UNTUK KEPERLUAN ADMINISTRASI

Dokumen-dokumen

Dokumen-dokumen yang dibawa adalah untuk keperluan pendaftaran dan pembuatan surat keterangan lahir bayi. Dokumen-dokumen yang harus dibawa adalah buku kontrol kehamilan, surat-surat dari dokter yang berhubungan dengan kehamilan, fotokopi KTP suami dan istri, fotokopi kartu keluarga, dan fotokopi buku nikah. Untuk fotokopi KTP, kartu keluarga dan buku nikah, masing-masing saya bawa sebanyak sepuluh lembar. Pada akhirnya sepuluh lembar ini bersisa tapi, menurut saya, lebih baik sisa daripada kurang.

Sebagai tambahan, kalau biaya persalinanmu ditanggung oleh asuransi atau kamu dapat tunjangan melahirkan dari tempatmu atau suamimu bekerja, kartu-kartunya juga dibawa ya.

Semua dokumen ini saya masukkan ke dalam map tersendiri dan saya infokan ke suami dan orang tua saya. Jadi, siapapun nanti yang mengurus administrasi atau dihubungi pihak administrasi rumah sakit, bisa langsung tahu tempatnya.

Rincian barang-barang di atas adalah berdasarkan pengalaman pribadi saya ya. Bisa saja ada barang-barang yang menurut kamu ngga perlu dibawa atau justru ada barang-barang yang seharusnya dibawa tapi ngga masuk dalam rincian saya.

Semoga artikel ini bermanfaat, terutama buat kamu yang sedang bersiap menuju hari persalinan ;)

Auto Post Signature

Auto Post Signature