Film 3 : ALIF LAM MIM

09 October 2015
ALIF LAM MIM!?
ARE YOU SERIOUS, ANGGY UMBARA?

Begitulah reaksi pertama saya ketika melihat trailer film 3 di televisi. Oh come on, Gy... Ngapain bawa-bawa Alif Lam Mim ke film!?? Tapi setelah nonton filmnya, saya akhirnya tahu kalau he's totally serious.

Saya tidak mengenal Anggy Umbara secara personal tapi selihat saya, Anggy adalah tipikal 'orang gila' karena pikiran dia dan bagaimana cara dia memvisualisasikan pikirannya dalam film-filmnya sangat out of the box. Jadi saya pikir film ini pasti another madness of Anggy Umbara.

Suatu pagi, saat saya dan suami sedang sarapan, Anggy muncul di sebuah talkshow salah satu stasiun televisi swasta bersama beberapa pemain film 3 dan Arie Untung. ARIE UNTUNG!? Ngapain Arie Untung disitu? Rupanya Arie Untung adalah produser film 3 ini. Wow! Ngga nyangka!

Di talkshow tersebut Anggy bercerita bahwa film 3 berawal dari mimpi. Mimpi bisa jadi film!? Kayaknya cuma Anggy Umbara yang bisa begitu ;p Lebih lanjut, Anggy menjelaskan alasan kenapa dia merasa harus mewujudkan mimpi tersebut menjadi sebuah film dan yang paling penting, kenapa dan ada apa dengan Alif Lam Mim.

Fix! Saya harus nonton film ini.

Secara garis besar, film adalah film yang memadukan unsur laga, drama dan agama sesuai dengan penggambaran tokoh dan situasi yang dihadapi Alif, Lam, dan Mim. Tapi setelah saya nonton film ini, saya akhirnya tahu bahwa film ini lebih dari itu. Film tidak hanya mengandung unsur laga, drama, dan agama tapi juga politik, sosial, kemanusiaan, persahabatan, moral, cinta dan kasih sayang yang semuanya disajikan secara proporsional.



Film 3 mengambil latar Jakarta pada tahun 2036. Digambarkan di tahun tersebut Indonesia bukan lagi negara demokrasi melainkan sudah berubah menjadi negara liberal akibat terjadinya revolusi di tahun 2026. Hak asasi manusia adalah segalanya. Salah satu konsekuensinya adalah penggunaan peluru tajam tidak lagi diperbolehkan. Hukum ini akhirnya 'memaksa' semua orang untuk membekali diri dengan kemampuan bela diri tingkat tinggi.

Adalah Alif, Lam, dan Mim. Tiga orang sahabat yang dibesarkan bersama di sebuah pondok pesantren bernama Al-Ikhlash. Ketiganya mempunyai karakter dan cita-cita berbeda yang membuat mereka memilih jalan hidupnya masing-masing ketika dewasa.

sumber gambar : satujam.com

Terinspirasi dari bentuk huruf Alif yang tegak ke atas, Alif (Cornelio Sunny) digambarkan sebagai orang yang lurus, keras, dan menggebu-gebu seperti api. Dengan latar belakang karakter dan karena kematian orangtuanya, Alif memilih jalan hidup menjadi seorang polisi dan masuk dalam pasukan khusus. Alif bertekad untuk membasmi segala bentuk kejahatan sekaligus mencari pembunuh kedua orangtuanya.

Karakter yang tidak terlalu keras juga tidak terlalu tenang seperti posisi huruf Lam di antara huruf Alif dan Mim dan seperti bentuk huruf Lam yang menyerupai angin, Lam atau Herlam (Abimana Aryasatya) digambarkan sebagai seorang family man yang sederhana. Lam memilih jalan hidup menjadi seorang jurnalis. Lam mempunyai idealisme untuk selalu memberitakan kebenaran. Idealisme ini juga yang seringkali menghadapkan Lam pada dilema.

Mim atau Mimbo (Agus Kuncoro) digambarkan sebagai orang yang tenang, seperti bentuk huruf Mim yang menyerupai aliran air yaitu awalnya adalah akhirnya. Sejak remaja Mim punya ketertarikan lebih terhadap agama. Hal inilah yang kemudian membuat Mim memilih jalan hidup menjadi seorang ulama dan mengabdikan diri pada pondok pesantren tempat dia dibesarkan.

Alif, Lam, dan Mim dipertemukan kembali setelah terjadi peristiwa peledakan bom di sebuah cafe. Sebagai penegak hukum sekaligus orang yang ada di tempat kejadian saat bom tersebut meledak, Alif pun segera bergerak untuk menemukan dan menangkap pelaku peledakan bom. Bukti-bukti yang terkumpul mengarah pada pondok pesantren Al-Ikhlash, pondok pesantren dimana Mim berada. Setelah sekian lama, Alif akhirnya bertemu dan berhadapan dengan Mim dalam sebuah pertarungan. Benarkah dalang peledakan bom di cafe tersebut adalah Mim?

Sementara itu, saat sedang melakukan investigasi kasus peledakan bom untuk dijadikan bahan berita, Lam menemukan fakta yang sangat mengejutkan yang harus dia sampaikan kepada Alif. Fakta apa yang ditemukan Lam?

Apakah akhirnya Alif, Lam, dan Mim mengorbankan persahabatan mereka demi membela keyakinan mereka masing-masing?

Dari awal sampai akhir, film ini memang menunjukkan keseriusan sekaligus 'kegilaan' seorang Anggy Umbara. Lihat saja jajaran pemain-pemainnya. Cornelio Sunny, Abimana Aryasatya, Agus Kuncoro, Piet Pagau, Prisia Nasution, Tika Bravani, Donny Alamsyah, Teuku Rifnu Wikana, Tanta Ginting, Verdi Solaiman dan Cecep Rahman. Semua adalah nama-nama yang kualitas aktingnya tidak perlu diragukan lagi.

Perpaduan akting dan keterampilan bela diri para pemain, teknik sinematografi dan penggunaan teknologi computer generated imagery (CGI) menghasilkan scene-scene SUPER KEREN yang akan membawa kita larut dalam cerita. Jujur, saya jadi pengen banget bisa bela diri juga! Hahaaayy ;p

Selain itu, bukan Anggy Umbara namanya kalau tidak memberikan kejutan-kejutan dalam filmnya. Dari mulai jalan cerita, kemunculan tokoh-tokohnya, dialog-dialog yang cerdas dan unexpected ending.

Melalui film 3 sepertinya Anggy Umbara ingin menitipkan pesan sekaligus kritik sosial, tidak hanya kepada pemerintah tapi kepada kita semua. Bahwa kalau kita hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain, terus menerus mempermasalahkan perbedaaan, setengah-setengah dalam menerima dan mengolah informasi tanpa mau mencari tahu faktanya atau malah justru memutarbalikkan fakta maka bisa jadi negara kita akan menjadi negara seperti yang digambarkan dalam film 3. Chaos.

Saya harus acungi jempol untuk keberanian dan usaha Anggy Umbara mengangkat konsep futuristik dan menggambarkan Jakarta di tahun 2036. Saya juga harus acungi jempol untuk Arie Untung yang mau menampung dan mengikuti 'kegilaan' seorang Anggy Umbara. Kita tahu selama ini konsep futuristik seolah-olah hanya dimiliki oleh film-film luar negeri. Sepertinya Indonesia masih sangat jauh untuk mencapai konsep itu. Tapi film 3 adalah pembuktian. Pembuktian bahwa Indonesia (sudah) mampu membuat film futuristik. Thanks Gy, Ri, sudah menjadi 'gila' dan berbeda ;)

Overall, buat kalian yang belum nonton film 3 : Alif Lam Mim karena masih ragu atau apapun itu alasannya, BURUAN BERANGKAT KE BIOSKOP SEKARANG! ^^ Pesan saya, tontonlah film 3 : Alif Lam Mim ini dengan pikiran dan perasaan yang lapang. Santai saja nontonnya, ngga usah pakai emosi. Nikmati dan yang paling penting, HARUS NONTON FILMNYA SAMPAI SELESAI dan JANGAN LEWATKAN SATU SCENE PUN, termasuk scene disclaimer di awal film. 

So, are you ready for ALIF LAM MIM?
3 comments on "Film 3 : ALIF LAM MIM"
  1. Sayang banged pas mau nonton udah keburu turun dari bioskop filmnya, hadehhh... Mungkin karena dianggap kurang "menjual" kali ya makanya cepet bener durasi tayangnya di bioskop. Btw, ma kasih buat resensi filmnya ya... :-)

    ReplyDelete
  2. Wuah.. Kayana seru tuh.. Jd pgn nonton.. Pgn liat setting Jkt di tahun 2036

    ReplyDelete
  3. waktu itu pernah nontn tralernya,tapi belum nonton full filmnya :(

    ReplyDelete

Auto Post Signature

Auto Post Signature